Kamis, 25 November 2010

Knowledge is cheap, eh?

Selamat pagiiiii! Mari kita rayakan pagi ini dengan……Tidur lagiiiii! Huehehehe!

Kemaren saya ngobrol sama Kika, salah satu teman sepermainan bola bekel saya.

Di antara segudang curhatannya tentang problematika kehidupan percintaan orang dewasa, (ceileeeeeh, bahasanya nggak ku-ku banget nih), akhir-akhir ini juga Kika mulai sering mengeluh tentang rasa malas yang menghantui dirinya ketika beliau harus mengerjakan tugas-tugas dari si dosen yang auranya kaya para dementor.

"Peeee, Kika males ngerjain tugas…." rengek Kika sore itu.

Tanggapan dari saya adalah, "ya udah nggak usah dikerjain." Huehehehe!

Saya emang paling nggak unyu sama masalah motivasi. Kalau nggak mau? Ya, nggak usah dikerjain.

"Tapi, Kika udah bayar mahal buat kuliah…." lanjut Kika lagi -STOP!-

Yup, kita mulai tulisan saya kali ini dari ratapan Kika yang satu itu, "Tapi, Kika udah bayar mahal buat kuliah," titik.

Sebagai salah seorang pelajar yang diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di negri sebrang nun jauh di mato. Saya bisa bilang, biaya pendidikan di Indonesia itu, suka bikin bengek para orang tua. Ambil contoh, di salah satu universitas negri terkemuka di Indonesia, mereka mematok sekitar 7-25 juta per semesternya bagi para mahasiswa yang ingin melanjutkan program S2. Waduuuuh, dengan biaya yang tidak jauh berbeda, saya udah bisa beli tiket SIngapore Airlines Roma-Jakarta PP tuh!

Dari dulu saya suka bingung, apa sih yang precious dari kuliah informatika di ITB? Toh pada akhirnya seluruh lulusan informatika di Indonesia belajar bahasa pemrograman.

Saya juga masih bingung, apa sih bedanya kuliah psikologi di Universitas Indonesia dengan kuliah jurusan yang sama di Universitas lainnya? Toh, pada akhirnya semua lulusan psikologi seluruh Indonesia bakal kenal sama Mbah Sigmun Freud.

Okay, biar lebih radikal lagi, saya akan buat gini perbandingannya, ngapain harus kuliah psikologi? Toh baca buku Sigmun Freud di rumah juga bisa. Lalu, apa yang membedakan antara seorang sarjana psikologi dengan seorang anak lulusan SMA yang baru baca buku Sigmun Freud?

Ke mana 1-5 juta rupiah yang para sarjana harus keluarkan untuk bayar setiap semesternya? Kenapa biaya pendidikan itu bisa mahal banget? Toh, kalau mau sukses mah, udah bisa kita liat Mang Bill Gates, Kang Mark Zuckerberg, atau Oom Bob Sadino, semuanya itu contoh orang sukses yang keluar dari zona edukasi yang aman.

Ngapain harus bayar 1-5 juta rupiah per semester kalau kamu bisa menghasilkan 1-5 juta USD per bulan?

Demi selembar kertas ditandatangani rektor dengan tulisan 'lulus'? Aaaah itu mah tinggal buat pake photoshop juga bisa, nge-print sendiri pake art paper, paling cuma abis 5000 perak. Nggak aneh kan, sekarang ini banyak terjadi pemalsuan ijazah.

Kadang saya suka mikir, ngapain ya si Papap kerja mati-matian buat bayarin saya sekolah sampai sekarang? Toh, kalau dilihat dari segi tulisan saya di blog ini, kayanya kok nggak mencerminkan saya pernah ngerasain jadi ranking satu waktu kelas 3 SMP dahulu kala ya?

Ternyata oh ternyata, setelah saya tilik sedikit lebih jauh. Pendapat bahwa pendidikan itu mahal is no sense! Jaman dulu, Aristoteles, Plato, sampe Machiavelli nggak perlu bayar buat jadi pintar. Yang mereka butuhkan itu cuma kemauan untuk menjadi pintar.

Terus ke mana dong si 1-5 juta itu pergi? Ditilep sama para civitas akademika? Weiiits, itu mah silahkan tanya sendiri kepada universitas masing-masing ya, hehehe.

Namun, sesaat tadi setelah bertapa di gunung, akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata ya, kita-kita ini membayar sedemikian rupa itu bukan untuk membeli ilmu pengetahuan, melainkan untuk membeli…….Lingkungan!

Apa sih yang ngebuat bayaran Universitas Pelita Harapan (UPH) bisa buat saya ngurut dada? Toh pada akhirnya lulusan interior designer di sana dan di tempat saya menempuh kuliah dulu itu nggak jauh beda?

Well, ilmu yang ditawarkan boleh sama, saya dan Jonathan Mulya sama-sama belajar tentang Bauhaus. Tapi, lingkungan yang saya rasakan ketika mempelajari aliran yang dipelopori Walter Gropius tentu jauh berbeda dengan ambience yang dirasakan seorang Jonathan Mulya.

Ketika saya minta bantuan anak jurusan Kimia buat bawain maket ukuran 1,2 x 1,5 m ke tempat dosen saya bercokol di lantai empat secara manual alias pake tangga, seorang Jonathan Mulya bawa maket sendiri dengan wajah yang masih terjaga keimutannya menggunakan lift. Yaaa, jadi wajar lah para mahasiswa UPH itu bayar lebih mahal.

Waktu dulu, saya juga suka garuk-garuk ketek, pas ngeliat temen-temen saya pada berani bayar sampe setengah milyar cuma buat kuliah di tempat yang sama kaya seorang Teteh Piera yang demen boker ini, wooooooow! Dengan setengah milyar saya nggak bisa ngebayangin bisa beli berapa piring siomay????

Kenapa nggak milih tempat kuliah lain aja? Yang biayanya lebih terjangkau tapi dengan kualitas yang sama? Toh pada akhirnya ketika masuk ke dunia kerja, ijazah cap lambang universitas itu cuma bisa ngaterin kamu sampe job interview, setelah wawancara? Skill kamu yang bicara.

But, they don't want to buy the knowledge. Ilmu pengetahuan itu murah! Bahkan bisa nggak usah bayar! Makanya, sebuah negara dengan tingkat korupsi yang tinggi ini masih bisa mencanangkan program gratis bersekolah. Terus, apa yang bisa membuat para sekolah swasta kenamaan di Jakarta punya bayaran SPP yang hampir sama kaya harga kambing iedul adha? Lingkungan.

Semua guru matematika di seluruh Indonesia itu sama-sama ngajarin aljabar dan seluruh guru sejarah masih ngajarin tentang awal mula terjadinya Konferensi Meja Bundar, tapi setiap sekolah di seluruh pelosok nusantara itu menawarkan lingkungan edukasi yang berbeda dan nggak ada satu pun yang sama.

The teachers offer the knowledge, but the schools offer you the other thing. 'The other thing'-nya ini yang mahal.







So, kalau mau pinter, nggak usah pergi ke sekolah, world is the biggest class we've ever had. Tapi, kalau mau dikelilingi lingkungan yang pintar, sebuah instansi pendidikan adalah gerbang utamanya.

Selamat hari guru!

1 komentar:

  1. huwoooo dari andalas mampir ke blog iniiiiii, keren, keren, keren...

    BalasHapus