Minggu, 18 Maret 2018

#coolturead: H +1

Mau sedikit cerita tentang proses menulis yang saya alami ketika menulis blog sampai terbentuknya commuteheart.

Jadi, saya sempat mikir kan ya…

Emang ada yang mau beli buku saya? (((SELAIN SAYA SENDIRI)))

Terus, rasa PD saya juga sempat tergerus sama keberadaan vlogger. Ya Allah, hari gini masih jadi blogger???

Ketika mendapatkan jumlah like itu lebih prestige daripada jumlah royalti.

Belum lagi keberadaan wattpad, saya sempet ngira wattpad ini aplikasi turunannya whatsapp.

Terus blog saya téh masih konsisten aja ngomongin daily routine. Ya nggak apa-apa sih kalau daily routine nya, sehari di London, besoknya di New York, dua hari kemudian di Amsterdam, tampak seru sekali daily routine-nya.

Meanwhile, daily routine saya??? Sehari di Stasiun Cilebut, besok di Stasiun Tebet, lusa di Stasiun Gondangdia. Ya seputaran itu aja. Daily routine saya pun sebenernya tampak seru ya? Tampak seru untuk dikata-katain, hiks hiks…

Temen-temen blogger saya udah bisa ngehasilin duit, they can live from blog! Kalau saya lebih kepada, kalau mau tau saya masih idup apa nggak, ya silahkan liat aja blog saya.

Hidup saya kaya jumlah penghasilan mamang gojek yang suka mangkal di depan rumah, kadang naik-kadang turun. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang-kadang ngambang nggak jelas kaya eek di Sungai Ciliwung…

Tapi, ternyata oh ternyata, saya baru sadar kalau saya memposisikan 'menulis' sebagai proses self healing. Saya nggak peduli berapa orang yang baca postingan saya, ngggg, peduli juga sih…Tapi, perasaan senang yang saya dapatkan itu bukan karena jumlah orang yang baca tulisan saya, tapi lebih kepada ketika tulisan saya di publish. Kayanya tuh lagi nahan buang hajat dua hari, terus keluar semuanyaaaa! BRAT BRET BROT!

I felt really awesome when I clicked 'publikasikan' button on my computer screen.

Rabu, 14 Maret 2018

#coolturead: H - 2

Kyaaaaa H-2 menuju acara, deg-deg-an luar biasa, karena saya biasa di luar! Ahahahah!

Well, di postingan kali ini saya mau share tentang rundown acara dari #coolturead.






13.00 Registrasi
Tunjukan e-tiket Anda! Jangan yang lain….By the way, ticket nya kayak usah di print ye!


13.00 Apa sih Cooltura.id
Awalnya banyak yang mengira kalau cooltura itu adalah komunitas pecinta tanaman yang dibudidayakan, well we'd love to try it though! Tapi, sayangnya bukan tanaman yang bakal kami budidayakan, kami akan membudidayakan budaya itu sendiri. Saiiiik~ Gimana caranya? Terlalu panjang untuk ditulis di sini, makanya dateng ke acara-acaranya cooltura.id, biar kita bisa tukar pikiran.


13.10 Commute with your heart!
Nah ini, mari kita ngobrol tentang behind the scenes pembuatan novel seperenam fiksi, Commuteheart. Sempat saya berpikir bahwa bikin keributan itu lebih gampang daripada bikin buku.


13.30 Mari kita tebak-tebakan
Yuk mareee merapaaaat buat dapetin buku dari bentang pustaka~


13.35 It's Bentang Pustaka time!
Ya barangkali ada yang masih belum kenal Bentang Pustaka. Ya walaupun ada bejibun penulis tersohor di sana, semoga saya seperti mereka kelak ya~


13.55 Saatnya berbagi
Ya, sharing is caring! Dapetin another hadiah dari Bentang Pustaka!


14.00 Anda bertanya, kami menjawab
Sok nanya apapun, asal jangan nanya all those holy questions started with "kapan…."


14.15 Mari Menulis
Ayat pertama kitab suci yang saya yakini itu, "bacalah…" tapi apa yang mau dibaca kalau nggak ada yang ditulis…


14.55 And the award goes to…
Mari kita buktikan, siapa yang cuco' meong tulisannya untuk (((BARANGKALI))) bisa diterbitkan


15.00 Goodie bag
Tukarkan feedback form yang udah kamu isi dengan goodie bag!


Yak sekiranya begitulah~ See you at the event….

Rabu, 07 Maret 2018

#coolturead: H - 13

Di tiga belas hari lagi menuju acara #coolturead ini, saya mau share another awful but grateful fact tentang Commuteheart.






Jadi, pada awalnya Commuteheart itu dicetak hanya sebagai e-book saja. Well, di perjanjiannya sih tertulis bisa dicetak dalam bentuk lain, buku cetak salah satunya. Tapiiiiii, saya nggak tau kapan buku cetaknya would be published. Well, banyak yang bilang buku fisik adalah pride seorang penulis.

Menwhile beberapa orang yang sempat saya ceritakan kalau saya dalam proses menulis buku, malah udah punya buku versi fisik duluan. Wah ini tuh ibaratnya, saya punya pacara terus udah cerita ke temen-temen saya kalau pacara saya so sweet banget, temen-temen saya ngira saya bakal nikah sama dia, eh taunya karena pacaran kelamaan, eh saya malah diduluin nikah. Ya, nggak apa-apa sih, tapi….Akhirnya saya tau kenapa bahu Lee Min Ho itu lebar. Why? Karena itu menjadi tempat saya untuk bersandar di kala rasa sedih datang menghadang, ahahahaha!

Instead of thinking it was failure, I felt so grateful that finally I had an ISBN code, hehehe. Saya baru tau walaupun ketika itu CommuteHeart masih dalam bentuk e-book, tapi saya tetap punya nomor ISBN. Pasti temen-temen yang kerja di bidang publisher pada pengen bilang, "ka mana wae atuh Neng???" Hihihihihi.

Jadi, saya tetap grateful, karena nggak semua orang bisa punya nomor ISBN kan, hehehe.

Beberapa selang waktu kemudian, saya dikasih tau kalau buku Commuteheart versi cetak bakal di-realease. Waaaah seneng banget dong, udah kebayang nih kalau buku saya bakal mejeng di toko buku terdekat.

Ternyata oh ternyata buku saya menggunakan sistem PoD, alias Printed on Demand. Jadi, kalian harus pesen dulu ke toko buku online untuk dapat buku tersebut. Waaaah, cita-cita saya ngeliat buku saya dipajang di rak toko buku pun sirna sudah.

Tapi, alasan yang diberikan pun masuk akal. Harga produksi buku cetak kian menaik. I am a newbie dan saya belum punya market yang jelas dari pembaca. Yes, I have a royal blog readers but not all of you will buy my book and it's okay, karena saya pun demikian. Ada beberapa blogger yang saya ikuti tapi saya belum tentu akan membeli produk mereka.

Kalau saya berada di sisi penerbit juga saya bakal mikir beberapa kali ya untuk mencetak buku saya dalam jumlah banyak. Pengen sombong sedikit nih, kalau saya under in the same line of Trinity yang terkenal dengan buku The Naked Traveller series-nya. Ya, kalau dari sisi bisnis sih, penerbit akan memilih untuk meng-invest The Naked Traveller teranyar-nya Trinity ya daripada buku Commutheart.

Bukannya tulisan saya tidak baik (atau emang gitu ya? Ahahaha!), but business is business guys. Ini yang saya pelajari ketika saya belajar mengembangkan cooltura.id. You need three P to run your business. Passion, people, and profit.

Dalam proses penulisan Commuteheart itu, saya baru ada di dalam tahap 'passion'. Yup, I have a passion to write about commuter line, mata saya bakal lebih berbinar-binar kalau saya lagi cerita tentang commuterline daripada hal lain. Nggak semua orang bakal terlihat kegirangan kalau lagi ngomongin ketahan sinyal masuk Stasiun Manggarai selama setengah jam.

Tapi, penerbit pun butuh 'people' atau market. Siapa sih yang bakal beli buku cetak yang ongkos produksinya cukup besar dari penulis baru yang belum keliatan siapa yang bakal beli? Kecuali kamu udah punya nama besar atau branding yang kuat duluan sebelumnya. Misalnya kamu adalah Syahrini, yang sebagai orang awam saja, saya tau nih kalau Syahrini buat buku tentang behind the scene kehidupan glamorous beliau, sudah so pasti bukunya bakal laku. Ya, kalau misalnya dalam sekali proses percetakan itu, kita harus langsung cetak minimal 1000 buku, ya pasti cingcay lah buat sekaliber Syahrini untuk ngejual 1000 buku, either karena orang-orang penasaran sama bukunya atau karena Syahrini sendiri yang langsung ngeborong 1000 bukunya, ahahaha! But hey, at the end of story, angka adalah hal paling gampang untuk menjadi tolak ukur sesuatu hal punya impact atau tidak.

Dan yang terakhir adalah, 'profit'. Kasarnya nih, penerbit juga adalah sebuah perusahaan yang di belakangnya ada banyak orang yang menggantungkan penghasilan dari buku kamu. Ya masa iya kita bayar editor yang udah ngedit tulisan kita pake passion doang, hehehehe.

Dengan tiga alasan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk membuat acara #coolturead. Sebagai anak lulusan Fakultas Seni Rupa, saya mencoba untuk menempatkan buku Commuteheart sebagai sebuah karya seni yang butuh suatu tempat untuk dipamerkan supaya orang kenal terlebih dahulu dengan karya saya terlebih dahulu.

Kan biasanya gitu kan yah kalau buat perupa-perupa baru, mereka bakan ngadain pameran di acara-acara hipster kekinian untuk memperkenalkan karya mereka. Dari situlah, orang-orang bakal tau kalau ternyata si A adalah pelukis yang punya gaya realis, si B adalah pematung dengan keahlian di bidang mix media antara perunggu dan kain, si C adalah fashion designer dengan ciri khas membuat pakaian yang berbahan baku kain tenun dari Sumbawa, dan seterusnya.

Kalau memang karya mereka sesuai dengan demand pasar, ya mereka bakal diminta untuk membuat karya serupa mereka.

Begitu juga dengan Commuteheart, I create #coolturead as a showcase to introduce it. Kalau memang ternyata setelah acara #coolturead , banyak yang suka dengan Commuteheart, maka ada kemungkinan buku saya bakal dicetak dalam jumlah banyak, hehehe.

So, let's see what happen after 17th of March, kira-kira gimana nih tanggapan orang-orang tentang Commuteheart, will the sale increase? Hehehehehe.

Semoga tulisan ini bisa jadi insight buat teman-teman yang baru mulai menulis ya. Just keep on writing, Dilan itu bukan buku pertama-nya Pidi Baiq. Beliau itu nulis buaaaanyak banget buku, sebelum Dilan series booming. Dan yang namanya hard work dan consistency nggak bakalan bisa bohong!




Senin, 05 Maret 2018

#coolturead: H - 14

Yak di postingan sebelumnya saya cerita kan apa saja yang akan kamu dapatkan di acara #coolturead nanti.

Nah, di postingan empa belas hari lagi menuju the D-day, saya mau sharing skema pembayaran yang harus kamu investasikan kalau mau ikutan acara #coolturead.






By the way, udah ada yang list videonya Bu Dendy yang termahsyur itu? Yang lempar-lempar duit ke selingkuhan suaminya? Ketika melihat video tersebut, hati saya pun teriris seraya berbisik, "ya Allah uangnya buat saya aja, jadi bisa ngasih free HTM ke temen-temen semuanya…." Hiks!

Doain ya guys, biar nanti mah cooltura.id téh bisa dapet full grant atau invests, jadi kalau ngadain acara bisa harateeeesh!

Balik lagi ke sistem pembayaran yang harus teman-teman bayarkan.



150K
A family-signed book of commuteheart!

Yup! Fully signed by my family! The whole family's! Tanda tangan Pak Rachmat, cap bibir Bu Evie, dan sidik jari dari sayah! Sungguh menggemaskan sekali bukan guise??? Udah terlalu biasa kalau buku dapet tanda tangan dari penulis doang! Kapan lagi dapet tanda tangan dari keluarga penulis! Untung jumlah keluarga saya cuma tiga yes!

Furthermore, you'll have a bonus that I created only for you! Apakah itu??? Eiiits, kamu harus datang ke acaranya duluuuu!



75K
Ini harga tiket masuk untuk satu orang. Tenang, pas dateng ke acara ini kamu cuma seorang, pas selesai event kamu bisa keluar dua orang, ihiy! Nama acaranya kan #coolturead ya? Nggak cuma buku doang yang bisa dibaca genkz, tapi masa depan juga….

Kamu bisa terapkan langsung ilmunya, ke orang yang udah kamu incer pas di acara! Azeeeeeg~



50K
Emangnya cuma Nia Rahmadhani doang yang bisa punya squad, HTM acara #coolturead pun bisa punya squad deal! Ini harga tiket untuk tiga orang atau lebih. Bawa geng kamu (jangan geng motor tapinyaaah!) untuk belajar jurus menulis, jurus mendekati penerbit, juga jurus ikhlas ketika you're falling in love with people that you can't have, uuuurgh~


Sooo, what are you waiting for qaqa! Kuy kita ketemuan di acara #coolturead, Sabtu 17 Maret nanti mulai dari jam satu siang~




#coolturead: H - 15

Yasss lima belas hari lagi menuju acara #coolturead






Jadi, sebenernya ada tiga jenis harga yang bisa kamu bayarkan untuk bisa masuk ke acara super duper kewl inih! Tapi, berapapun harga yang kamu bayar, kamu bakal mendapatkan:


1. Tiket Masuk ke acara
Masuk ke acara #coolturead ya, bukan masuk ke surga..


2. A pack of doakeripik
Cuma orang-orang terpilih aja yang bisa mencoba the delicacy of doakeripik! Sebuah cita rasa tiada dua dari tanah Sunda, yang kerenyahannya akan selalu menggoda, walaupun barangnya lagi nggak ada~


3. A superb goodie bag from Bentang Pustaka
Ini nih, yang nggak boleh dilewatkan! Seriusan, saya aja ini lagi nego pihak Bentang buat dapetin goodie bag-nya juga, ahahaha! Maklum walaupun saya sebagai salah satu narsum, tapi jiwa sebagai banci goodie bag nya belum bisa dilewatkan begitu sahaja.


4. E - Certificate from cooltura.id
Lumayan buat nambahin di CV


5. Workshop nulis asoy geboy
Meeen, ayat pertama dalam kitab suci itu; "bacalah…" tapi apa yang mau dibaca kalau nggak ada yang ditulis? Sadiiiisss!


6. Pintu berhadiah dari Bentang Pustaka untuk pemenang quiz
Wait! Pintu berhadiah??? YUPS! Alias door prize! YAY! *Biar garing tapi ini penting~


7. Networking
Emangnya internet doang yang bisa 'networking', kamu pun!


8. Free flow tea and coffee! 
Asal jangan bawa galon buat diisi ulang aja, ketauan banget kamu anak kosannya~ *Pengalaman pribadi pernah bawa galon ke sekre UKM kampus buat minta aer….


9. Kesempatan supaya bisa dilirik langsung tulisannya sama pihak penerbit Bentang Pustaka
Ini nih yang paling sering ditanya-tanya sama temen-temen saya; "Pe minta kontaknya editor lo dong??" Nah bukannya ku tak mau, tapi terkadang agak kurang sopan ya memberikan kontak pribadi seseorang ke orang yang belum pernah ditemuinya.

Sedangkan di acara #coolturead ini, kamu bakal punya kesempatan buat PDKT sama pihak penerbit yang bersangkutan. Dan melalui workshop nulis asoy geboy, apakah tulisan kamu bisa diterbitkan? Kalaupun tidak, kamu bisa nanya langsung sama pihak penerbit sekaliber Bentang Pustaka yang menaungi Andrea Hirata, Dewi Lestari, Trinity, daaaaaaaan….Viera Rachamwati, ahahahahaaaaaaargh!


Sooooo, see you on Saturday, 17 March 2018 di Kolaborato!





Minggu, 04 Maret 2018

#coolturead: H - 16

Hai!

16 hari lagi menuju acara #coolturead dan saya makin deg-deg-an. Udah seminggu terakhir ini, tidur mimpi dikejar-kejar sesuatu, kebangun jam 3 pagi dengan nafas yang ngos-ngos-an! Sempet cerita ke dokter, takutnya kena penyakit jantung dan hasil diagnosa-nya adalah, "kamu lagi dikejar-kejar buat bayar utang?"







KYAAAAA~ Ibu Dokter, saya lebih suka dikejar-kejar Joseph Gordon Levitt oppa daripada rentenir! Lain perkara kalau renternirnya Joseph Gordon Levitt~

Maklum abis ngeliat si Mamah ujug-ujug pingsan sambil muntah-muntah di pagi hari, yang ternyata terkena stroke, saya jadi agak parno sendiri nih. Pernah nyangka kulit gatel-gatel gara-gara alergi makan sesuatu, eh setelah ditelususri, taunya emang saya belum mandi dua hari! Aw aw aw!

Oke, di postingan kali ini, saya mau ngasih tau alasan kenapa saya milih Kolaborato co - working space yang lokasinya di Jl. Bogor Baru A4 No.8, deket gedung D3 Institut Pertanian Bogor, untuk dijadikan tempat syukuran berbayar atas terbitnya buku commuteheart.



1. Strateheees
Bener-bener strategis. Cuma 7000 perak away dari Stasiun Bogor pake gojek, malah bisa 3000 kalau lagi dapet promo 50% dari uberbike. Letaknya di tengah kota, bikin kamu gampang melanjutkan program melancong keliling Bogor, setelah acara @cooltura.id selesai jam 15.00 WIB


2. Pionir
Buat orang Jakarta atau yang tinggal di kota-kota besar mah, kayanya co-working space itu udah kaya ketombe di kepala saya kalau  nggak keramas seminggu ya a.k.a pabalatak! Tapi buat warga kota satelite, kaya saya dengan Bogor-nya, mencari tempat kongkow pure untuk bersosialisasi selain di cafe-cafe kekinian, susah minta amfun. Waktu nemu Kolaborato yang nyempil di sebrang Alfamart sama kios tukang sate Pak Rahmat tahun lalu, saya terharu banget! Ini beneran di Bogor ada co-working space??? Dan ternyata saat itu, memang Kolaborato (as far as I know), salah satu co-working space pertama di Bogor.


3. Harga yang murmer dan bisa nego asalkan kamu punya visi dan misi yang kece
Ini nih yang bikin Kolaborato sounds 'mahal'! Awal ketemu sama one of the owner, Mas Ari, saya dan Ayu langsung blak-blak-an that cooltura.id couldn't pay the rate. Setelah ngobrol seru dan ternyata kita punya kesamaan visi dan misi, so he allowed us to pay as we could. GILA NGGAK SIH! Di zaman what-you-say-so-capitalism, yang di mana motto iklan yakult adalah; "saya minum dua!" tapi ukuran Yakult satu pack nya berisikan 5 botol, di mana kamu berarti harus beli satu bungkus lainnya untuk mengitu saran si iklan yakult itu. Terus ada gitu tempat yang super strategis ngasih kamu harga miring!?!? And it's Kolaborato!


4. Penghuni-nya seru-seru
Jadi, di Kolaborato itu kamu bener-bener bisa ketemu sama penghuni yang asik diajak ngegosiiiip 6 jam non stop! Dari adzan suhur sampe Isya. Subhanllah gaes, hanya waktu shalat yang bisa menghentikanmu dari obrolan-obrolan seru sama mereka. Dan tentu aja, buat para pengabdi cerita mistis, kamu bisa ketemu sama 'penghuni' lainnya juga, hihihihi~ Kalau ada kesempatan ketemu sama Mas Ari & Mas Lutfi, the owner duo, silahkan bertukar pikiran, dari masalah tentang gimana cara buat logical framework, coding aplikasi baru, sampai kue paling enak dari artis-artis yang buka toko di Bogor, mereka dengan siap sedia akan membantu.


5. It's not about competition, yet collaboration
Hareee gini masih ngomongin kompetisi??? HELLLAAAAW~ Di Kolaborato, kamu bisa ketemu sama banyak orang yang MAU BERKOLABORASI. Kontji-nya di frase; 'mau berkolaborasi' ya….Karena kalau mau ketemu banyak orang mah, tinggal ke pasar aja, tapi belum tentu orang-orang di pasar itu mau berkolaborasi sama kamu, unless you buy their goods.


Di acara #coolturead nanti, inshAllah temen-temen bisa ketemu langsung sama Mas Ari kemudian mungkin bisa buat social experiment seru bareng tim beliau. So what are you waiting for? Let's see him on 17th of March at 1 - 3 PM, only at Kolaborato!

#coolturead: H - 17

Masih bersama kembaran Raline Syah….

Kembaran Raline Syah???

Iyeeee!

Itu sayaaaa…Ahahahahargh! Minta disleding Wayne Rooney banget yah! Abisan Teteh Raline ini bener-bener idolaque. Udah mah cantik, pinter, dan temennya Seungri Bigbang, ya Rab, kapan atuh saya bisa berteman ikrib dengan oppa-oppa Korea kesayanganku ituh???

Selain bersama kembaran Raline Syah, di postingan ini juga, kita masih ditemani Teteh Isyfi, si calon PhD!

Seperti janji saya, di tulisan sebelumnya saya punya cerita seru tentang background dan pencapaian dari Teteh Isyfi yang bikin saya pengen wandering, "kok bisa orang super keren kaya gini baca blog gue????"



***


"Oh iya aku boleh cerita dikit ya Vier….Ini agak relate sama yang sering kamu posting sih…

Kalau aku baca tulisan blog mu, in general, pesannya lebih ke; we have to be patient, we have our own time for success, gitu kan ya?

Dan itu emang bener sih Ceu…

Kaya kamu bilang, kenapa justru cerita kamu di commuter lebih dilirik penerbit ketimbang cerita kamu di Italy. Atau cerita buku kamu yang sempat di-postpone beberapa tahun. Nah, aku tuh pengen banget nulis fiksi, tapi nggak belum bisa sampai sekarang….

Tapi, akhirnya dengan kekuatan bulan kuasa Tuhan, aku bisa juga publish tulisan aku walaupun jenisnya non-fiksi.

Ya begitulah Ceu, kita lahir dengan talent yang berbeda. Walaupun kita seusia Veronica Roth yang udah mulai nulis Divergent sejak kuliah dan gue mulai nulis cerpen mading dari jaman SD, tapi nasib dan jalan hidup kami berbeda.

Dia penulis fiksi yang dikagumi jutaan manusia, sedangkan gue penulis non fiksi yang hanya beberapa orang aja yang tertarik untuk baca. 

Dan kenapa publikasi pertama gue adalah ketika gue berusia 30 tahun, alias baru dua tahun yang lalu. Sedangkan Veronica Roth bisa lebih awal dan lebih booming. Ya, kan kita masing-msing punya fase yang beda, nggak bisa disamain.

Eh iya, aku sempat booming juga sih di 2016, tapi nggak se-booming Divergent….

Aku menang essay berbahasa Inggris nasional, juara dua. Ini rasanya mungkin kaya dirimu jadi bintang iklan indomie. Jadi, dulu aku kagum banget sama terori elit. Nah, pakar teori elit kontemporer kan Jeffrey Winters yang juga seorang Indonesianist. Kebayang dong, aku nge-fan sama Jeffrey di 2013, terus 2015 Jeffrey milih essay aku untuk jadi salah ssatu pemenang!






Itu publikasi pertama aku. ISRSF's best essays 2015.

2016 adalah masa yang berat buat aku, people started knowing me. Some appreciated me, some underestimated me.

Ya, wajar sih dibilangin tulisanku itu mediocre, ranah riset yang mediocre. Tapi buat aku, yang penting tetep istiqomah nulis dan bisa dipublish di jurnal-jurnal, in privilege yang aku dapat setelah menang lomba essay tersebut.

Ya, gue kira itu udah hukum alam sih, semakin lo naik level, semakin tinggi ekspektasi orang, dan semakin sering pula denger orang nyinyir….

Dan aku juga setuju sama statement-mu Ceu, tulis kita itu reminder buat kita sendiri. Misal, aku ngomongin tentang leadership yang bagus tuh dengan role modeling, eh tiba-tiba pas aku jadi leader, aku malah jadi seorang pemimipin yang galak dan arogan. Nah, tulisan aku tersebut bisa jadi reminder, supaya aku nggak arogan dan represif.

Kalau soal orang nyinyir, aku belum kece banget sih handle-nya. Aku sering aja nangis di malam hari and screaming why me????? God, why me???

Yah bayangin aya ya Ceu, kita berhadapan dengan reviewer atau dosen yang bilang; riset kamu tidak menunjukan kebaruan, ada yang tidak beres dengan landasan teori, eh ditambah orang-orang sekitar pada nyinyir; 'lo kan cuma  bayinya professor lo! Bisa apa sihlo tanpa those distinguished people??!'

They don't know what we been up to. Mereka taunya cuma, 'lu mah enak!'

Kata siapa enak??? Jadi, grad student penerima beasiswa, walaupun kita dapat funding, tetep aja kita hidup bersahaja.

Kan, dulu ngetrennya ada selebtwit yang bilang kalau penerima beassiwa itu hobinya jalan-jalan aja, aku mah jalan-jalannya dari Stasiun Cikini ke Salemba atau jalan dari LBI Depok ke Margo, biar nggak berkurang saldo go pay. Harus irit-irit buat test IELTS.

Ya, segratis-gratisnya beasiswa teteup aja sekolah butuh kapital. Duh ini gue jadi curhat yaa…ahahahaha!"


***



Nah, sekiranya begitulah sekelibat kisah dari Teteh Isyfi si calon PhD! Ayooooo kita aminin bareng-bareng! InshAllah tulisan adalah doa!

Gila yah, satu-satunya Jeffrey yang saya kenal itu Jeffrey Woworuntu, suaminya Ruth Sahanaya. Aduh, ketauan deh saya angkatan berapa.

Oh iya buat yang penasaran sama tulisan non-fiksi yang dibuat sama Teteh Isyfi, bisa cek salah satu tulisan beliau yang berjudul; Information and Communiation Technologies for Women's Business: Prospect and Potential in Indonesia yang dikeluarkan oleh Kemendag RI.






Atau tulisan beliau lainnya yang walaupun masih berstatus paper candidate di IJIS, yang berjudul; Divulging Women Leadership Through Girls In Tech Indonesia.






Bener-bener Afghan nih Teteh Isyfi! SADIS! Judul jurnalnya udah kece banget! Ya Allah, tipe-tipe cewek kaya gini mah nggak mungkin makan cilok pake bumbu aida campur saos yang katanya dibuat dari cabe busuk, yang sering saya beli di pelataran Stasiun Cilebut!






Buat yang penasaran sama sosok Teh Isyfi, ditunggu kehadirannya di acara #coolturead, tujuh belas hari dari sekarang, tepatnya di tanggal 17 Maret 2018 nanti, di Kolaborato Co-working space di Bogor!