Jumat, 03 Mei 2019

Mata Ikan & Me vs The World: That Bolong Feet

Keesokan harinya saya pergi ke Puskesmas untuk proses ganti perban secara benar dan baik.

Inget ya guys, kalau mau santai ke Puskesmas, datanglah di jam-jam mau tutup.

Saya datang jam 11.15, lima belas menit sebelum pendaftaran ditutup.

Tanpa menunggu lama, saya pun langsung ke ruang tindakan.

Uuuurgh~ Rasa perih yang luar biasa datang menghampiri. Karena beberapa kapas kecil menempel di area bolong tempat daging mata ikan saya dioperasi.

Kali ini saya sudah bersiap membawa jaket untuk di....

Bukan untuk dipakai, tapi untuk digigit. Agar supaya karena because of meminimalisir suara teriakan saya pas diganti perban.

(Kalau nggak jijik-an, nih buat yang penasaran sama proses penggnatian perban mata ikan saya, silakan ditengok, hehehehe...)






Soalnnya saya masih kebayang rasa malu teriak-teriak hari Sabtu kemarin ketika dioperasi sampe diliatin anak-anak kecil yang juga pasien di Puskesmas.

Ya Allah para generasi Z yang budiman, plis daripada liatin aku teriak-teriak, meningan liatin proses terbelahnya amoeba di sekitar kita.

Oh iya setelah dioperasi, kaki ini nggak boleh kena air. Jadi, sampai tulisan ini dibuat (sekitar 7 hari pasca operasi), kaki kiri saya belum tersentuh air sama sekali, paling di lap biasa aja. Di lap nya kalau bisa pakai lap handuk yang halus ya, jangan sampe pake kanebo.



Mata Ikan & Me vs The World: Ganti Perban

Sesampainya di rumah, saya melihat daging yang 'berisikan' mata ikan hasil congkelan dokter. 

Jadi, dagingnya itu kaya bakso urat, berwarna merah dan ada akar berwarna putih bermunculan di dalamnya. Pengen saya foto sih, tapi takut pada merinding disko pantura.

Anastesinya pun mulai hilang, kaki saya mulai terasa nyeri luar biasa.

"Ya Allah kaki aku bolong 2cm??? 3cm lagi, bisa jadi dulu buku!" Teriak saya dalam hati. 

Kena azab apa ya ini??? Apakah karena saya sering mengomentari teman-teman saya yang suka posting foto pake hashtag #wakeuplikethis tapi mukanya udah kinclong kaya abis wudhu pake SK II???

Tapi ya sudahlah, dengan bolongnya telapak kaki ini, saya jadi lebih bersyukur, toh mata ikannya udah dicabut. Dan emang ya kesehatan itu rezeki nomor satu. Mau dapet hadiah mobil Mercedes Benz dari undian puting beliun BRItama juga, kalau telapak kaki kamu bolong mah ya jalan juga tetep aja susah.

Bai de wei, saya denger kabar katanya kaki Syahrini juga lagi kepentok lemari ya? Terus langsung dibawa ke Singapore. Apa kabar kalau dia kena mata ikan ya? Langsung dibawa ke Lithuania mereun ya?

Di hari Minggu yang cerah nan berkilau, kaki saya terasa bau amis, ternyata banyak darah yang merembes di perban. Ya namanya juga daging kamu diambil 2cm, what do you expect?

Jari kaki saya pun terasa kaku, karena terlalu lama dililit perban. Pengen ganti perban, tapi ngeliat darah yang ngerembes aja, saya udah nangis.

Mau ke Puskesmas, ya tutup, karena hari libur.

Tak disangka, tak dinyana, salah seorang saudara saya yang ternyata adalah seorang suster datang berkunjung. Dia membuka lilitan perban saya yang sudah memerah karena rembesan darah.






Uuurgh saya baru tau, kalau di balik lilitan perban gulung itu, ada banyak kapas yang disematkan di antara kaki saya yang bolong. Bahkan ada beberapa kapas kecil yang menempel pada daging saya yang basah karena darah dan perlu cairan semacam NaCl atau apa gitu ya namanya, untuk memudahkan proses penarikan kapas-kapas kecil yang menempel dengan nakalnya tersebut.

Huhuhuhuhu, jadi jangan sampai lupa cuci kaki ya teman-teman, kalau nggak nanti kakinya bolong kaya sayah~





Mata Ikan & Me vs The World: Jalan Ingkud-ingkud-an

Hari itu pun datang....

Hari di mana mata ikan saya akan dioperasi! Yay! Bye-bye jalan ingkud-ingkud-an!

Ingkud-ingkud-an???

Hmmm, apa yaaaa bahasa Indonesia dari ingkud-ingkud-an???

Jalan pincang kali ya? Pokoknya gara-gara si mata ikan di telapak kaki itu, saya jadi harus memiringkan telapak kaki saya atau menaikan kaki kiri saya untuk bisa berpindah tempat.

Sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan, saya datang ke Puskesmas sekitar jam 11 siang. Jumlah pasien yang mengantri saat itu tidak terlalu banyak, ada beberapa anak kecil yang berlarian ke sana-ke sini ditemani oleh orang tuanya dan beberapa pasien lansia yang sesekali bertanya tentang alasan saya ke Puskesmas.

"Kenapa ke Puskesmas Mbak?" Tanya salah satu ibu-ibu yang menggunakan koyo di kedua ujung dahinya.

"Iseng-iseng aja sih Bu, nggak ada orang di rumah, meningan ke sini..." Ujar saya DALAM HATI.

Yaaaaa, daripada diem terus meratapi nasib, meningan ngajak ngobrol pasien ngantri lainnya, kali-kali aja dapat tips and trick baru untuk mengusai dunia yang fana ini.

Dan bener aja sih, saya dapat informasi baru, jadi setelah dioperasi, mata ikan ini inshAllah pasti akan tercabut tapi jangan lupa proses pasca operasinya. Di situlah another problem will happen. Kita harus hati-hati sama infeksi.

Banyak pasien yang malas untuk mengganti perban atau daily check-up setelah proses operasi selesai. Mungkin karena malas antri di Puskesmas atau kakinya masih ingkud-ingkud-an, boro-boro ke Puskesmas, ke kamar mandi yang tinggal ngesot aja, sulit~

Setelah menunggu sebentar, saya pun dipanggil ke ruang tindakan. Hmmm, instead of 'ruang', mungkins tempat itu lebih cocok disebut sebagai 'area' ya. Area....na Grande~ Nggak deng, biasanya kan kalau ruangan itu tertutup ya, kalau di Puskesmas Tingkat Satu tempat saya dioperasi, area tindakan mereka tidak punya penutup. Ada sih penutup, tapi cuma partisi setinggi 1,8 meter yang bisa dipindahkan dengan leluasa.

Jadi, orang bisa lalu lalang dan melihat kaki saya diobok-obok.

Jeng-jeng! Operasi pun dimulai.

Tensi saya diperiksa terlebih dahulu, angka 109/63 muncul di sana. Kondisi yang cukup aman untuk dilakukan operasi kecil.

Dan....

Aaaaargh! Aaaargh! Aaaaargh! Arrrrgh! Aaaargh!

Sekitar empat atau lima kali saya teriak kesakitan, sampai-sampai pasien anak-anak yang tadinya berseliweran berlomba-lomba mengintip apa yang terjadi terhadap saya di area tindakan.

Kalau tidak salah hitung, saya mendapatkan lima kali suntikan anastesi di sekitar area mata ikan di telapak kaki saya.

Menurut dokter yang memberikan tindakan, telapak kaki itu pusat syaraf, jadi ya silakan sendiri yang mau dicoba disuntik di telapak kaki lima kali, dengan jarak waktu yang berdekatan, nanti kita bisa buat anti-anti-disuntik-di-telapak-kaki Club ya~

Gimana orang-orang yang suka disuntik botox ya?

Setelah dibius lokal, saya pun merasakan kalau kaki saya diubek-ubek oleh dokter dan salah satu susternya. Saya nggak bisa lihat gimana diubek-ubeknya, soalnya posisi saya itu tengkurap, tapi saya bisa melihat tetesan darah yang jatuh ke lantai.

Aduuuuuuuh, coba waktu dioperasi mata ikan itu bisa pakai backsound ya?

Jadi, sambil liat darah dari kaki saya yang menetes itu, saya bisa senyum-senyum sendiri gitu kali ya? Kapan lagi bisa liat orang yang abis disuntik lima kali di telapak kaki senyum-senyum?

Setelah operasinya selesai, kaki saya diperban bergulung-gulung. Saya masih nggak bisa merasakan kondisi kaki saya saat itu, mungkin biusnya masih ada kali ya?






Dokter pun bertanya kepada saya, apakah saya mau bawa daging mata ikan hasil congkelan beliau tadi?

Waiiiit??? Daging?

Bukannya operasi mata ikan itu cuma dibelek biasa gitu ya? Terus dikeluarin mata ikan yang segede biji beras itu??? Terus dijait lagi kulitnya?

Ternyata saya salah saudara-saudari.

Mata ikan itu macem-macem jenisnya. Ada yang nonjol ke luar dan ada yang numbuh ke dalem. Ada yang besar, ada yang kecil.

Nah, mata ikan-nya Viera itu yang numbuh ke dalem dan ukurannya cukup besar. Kata susternya sih ukuran daging saya yang ada mata ikannya itu, sekitar koin seribu dengan kedalaman sekitar 2 cm. Dengan kondisi dagingn yang dicongkel seperti itu, mana mungkin bisa dijait pasca operasi.

Ya, saya cuma bisa nunggu daging dengan ukuran yang sama tumbuh kembali di telapak kaki saya, huhuhuhuhuhu~

Sambil naik motor saya pun meringis, kaki saya yang dibalut perban saya rebahkan ke bagian tangki motor. Maklum saya pulang pakai motor ninja. Soalnya saya nggak nyangka kalau operasi mata ikan saya itu akan berakhir dengan bolongnya kaki saya sedalam 2cm.

Jadi, apa sih penyebab utama mata ikan Viera? Kan ada yang bilang karena keseringan pakai sepatu hak ya. Tapiiii, saya mah boro-boro pake sepatu hak, sepatu yang sering saya pakai itu sepatu keds.

Ternyata, kondisi kaki yang lembab dan kotor pun menjadi salah satu penyebab mata ikan muncul. Ini sih yang saya curigai, soalnya kan akhir-akhir ini Bogor lagi sering hujan. Sudah nggak kehitung berapa kali kaki saya dengan keds-nya itu basah kuyup. Jadi, kalau kaki kalian basah kuyup, ayo lekas segera dibersihkan dan dikeringkan ya, otherwise ada kemungkinan kaki kalian bakal bolong kaya kaki saya, emangnya cuma sundel aja yang bisa bolong?

Hihihihihihihi~


Mata Ikan & Me vs The World: The BPJS

Masih cerita tentang spionase atau si mata-mata...

Mata ikan.

Setelah memutuskan untuk dioperasi saja, saya pun pergi ke Puskesmas terdekat. Letaknya cuma 2000 perak away via promo Grab Bike dari rumah saya.

Berbekal kartu BPJS, yuhuuuu saya ini pengguna dan pengagum sistem BPJS lho...

Kalaupun di rasa ada beberapa oknum yang menyalahgunakan uang kumpulan BPJS, ya oknumnya itu yang salah. Untuk konsep BPJS-nya sendiri sudah oke sih, zaman dulu cuma orang-orang berduit aja yang bisa bisa berobat, sekarang mah hampir semua penduduk Indonesia bisa mendapatkan hak untuk sehat.

Tapi, ya namanya juga program baru ya, pasti banyak cacatnya, banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Tapi secara konsep mah udah keren kok.

Saya sampai jam 7.30 pagi di Puskesmas, dengan harapan dapat nomor urut awal supaya si mata ikan ini bisa cepat-cepat diurus.

Karena banyak pasien yang antri, saya baru dipanggil oleh dokter umum yang sedang berjaga sektiar jam 10.

Dan ternyata saya baru tahu kalau Puskesmas yang saya datangi itu adalah Pustu atau Puskesmas Pembantu, di mana peralatan yang dimilikinya tidak lengkap, sehingga para tenaga medis di sana tidak bisa menangani my lovely honey bunny fish eye. Saya pun dirujuk ke Rumah Sakit Mulia - Bogor, sekitar 8 KM dari si Pustu.






Sampai di sana, setelah menunggu sekitar satu jam sampai dokternya datang, ternyata mata ikan saya tidak ter-cover BPJS dan saya diharuskan kembali ke tempat Puskesmas pemberi rujukan utama dan dokter yang memberi rujukan ke Rumah Sakit Mulia ini yang harus bertanggung jawab.

Balik lagi ke Pustu, saya pun cerita ke tempat pendaftaran tentang apa yang terjadi di Rumah Sakit Mulia. Si penjaga menganjurkan saya untuk pergi ke Puskesmas Tingkat Satu yang letaknya 4 KM dari Pustu.

Dengan nyut-nyut-an nya si mata ikan, saya pergi dibonceng motor ke Puskesmas Tingkat Satu. Setelah berkomat-kamit membaca doa sehari-hari sampai doa makan karena harus mengantri sekitar satu jam, akhirnya si dokter umum yang ada di Puskesmas Tingkat Satu ini merujuk saya ke Rumah Sakit FMC, yang letaknya 9 KM away dari Puskesmas tersebut.






Dokter umum di Puskesmas ini bilang kalau mata ikan saya sudah terlalu dalam dan kondisinya sudah memprihatinkan dengan kapalan yang semakin menebal dan warnanya yang menghitam. Yang sempet saya kira kotor biasa, namun setelah dibilas dengan air hangat, si warna hitam ini tidak menghilang juga.

Saya pun pergi ke Rumah Sakit FMC sektiar jam 11.30 dan sesampainya di sana, suster pun bilang, kalau dokter bedah yang biasa praktek di jam tersebut sedang tidak ada. Jadwal dokter bedah lainnya baru ada jam 3 sore, dan pendaftaran baru dibuka jam 14.00.

Dari pada mati gaya, akhirnya saya pulang dulu ke rumah, sekalian istirahat shalat dan makan siang. Jam dua siang, saya kembali ke FMC dan yaaaa as usual, saya harus menunggu sektiar dua jam untuk dipanggil ke meja pendaftaran.

Saya ingat betul, sekitar jam 16.45 saya baru dipanggil ke meja pendaftaran dan guess what??? Mereka bilang, BPJS tidak mengcover mata ikan di rumah sakit tersebut. Saya bisa melakukannya tanpa BPJS tapi ada biaya sekitar 2 juta yang akan dibebankan kepada saya sebagai pasien non-BPJS untuk proses operasi, di luar obat dan biaya daily check up pasca operasi.

Dan saya dianjurkan untuk kembali ke Puskesmas pemberi rujukan untuk menangani permasalahan ini. Dan tentu saja di jam 16.45 tersebut, si Puskesmas sudah tutup, yang which is literally, generally speaking, but, therefore, however, berarti saya baru bisa balik ke Puskesmas keesokan harinya.

Waaah saya menahan nangis waktu itu. Pikiran saya kalut, antara mikir, emangnya pasien BPJS tuh sampai kaya gini ya penanganannya sampai mikir kalau Jennie BlackPink pernah kena mata ikan nggak ya?

Saya langsung pesan grab untuk pulang ke rumah sambil nangis sesegukan di punggung driver-nya.

Saya pun berusaha menenangkan diri sambil merendam si kaki dengan mata ikan ke dalam air hangat yang sudah diberi garam. Lumayan sih nyut-nyut-an nya hilang, tapi ya mata ikannya mah nggak hilang, tetap di sana, seperti luka yang pernah kau buat, wahai Tuan Muda Fernando Hose!

Singkat cerita, keesokan harinya saya bangun untuk pergi ke Puskesmas Tingkat Satu, as usual....Nunggu antri pendaftaran untuk bisa diperiksa sama dokter umum.

Dan ternyata Dokter Umum yang giliran jaga hari itu adalah Dokter Umum yang pernah merujuk saya ke Rumah Sakit Mulia di Puskesmas Pembantu. Saya curhat dong, kalau saya ditolak dua rumah sakit sebagai pasien BPJS dan juga dokter umum di Puskesmas Tingkat Satu kemarin.

Gimana ya gengs, sebenernya saya bisa aja sih ngelaurin uang hampir dua juta itu, daripada kaki saya ingkud-ingkud-an, oh my Gosh, kalau ada anak Jakarta Selatan yang baca blog ini, please ya tolong bantu saya to find the word 'ingkud-ingkud'-an in English~ Saya juga anak Selatan sih, tapi Bogor Selatan, jadi bahasanya suka diaduk-aduk, kaya perasaan aku ke kamu, uhuy~

Tapi, ya kan sebagai pengagum konsep BPJS saya pengen tau nih cara kerja BPJS itu kaya gimana sih sekarang? Apa benar kata para BPJS hatters, kalau sistem kesehatan pemerintah yang satu ini tidak baik?

Setelah curhat sama si dokter umum, si dokter umum ini pun bilang, "ya udah ke sini lagi hari Sabtu, soalnya peralatan operasinya harus saya siapkan dan disterilkan terlebih dahulu...."

Ya Allah, itu mah air mata berlinang antara lega dan kesel seraya berujar, "kenapa eh kunaon tidak dari kemareeeeeen sih Iroooooooooh????"

Ingin rasanya mereka ulang adegan AADC 2, ketika Cinta ngomong ke Rangga; "yang kamu lakuin ke aku itu.....JAHAT."

Okai, ceritanya belum selesai...Tapi, ada beberapa moral cerita yang ingin saya share di sini:


1. Kalau mau cek ke Puskesmas meningan siangan deh, jam 11. Antrinya sedikit, jadi bisa langsung ada tindakan.


2. Untuk para staff BPJS terkasih, mungkin kah untuk mengurangi proses ping-pong yang saya alami? Saya tidak ada masalah dengan ketersediaan alat yang terbatas ya, namanya juga puskesmas pembantu, tentu saja alatnya tidak selengkap di puskesmas utama.

Namun alangkah baiknya jika dari awal proses saya mengecek si mata ikan ini, dokter umum yang jaga di Pustu sudah bilang, "oke, karena keterbatasan yang kami miliki, ini bisa ditangani hari Sabtu oleh salah satu pihak kami di Puskesmas Tingkat Satu. Anda bisa datang di jam 11, ketika jumlah pasien yang antri sudah sedikit, sehingga saya bisa konsentrasi untuk melakukan tindakan." That's it~ Jadi, saya nggak usah ke sana-ke mari bertindak sesuka hati kaya Kera Sakti.


3. Untuk para pengguna BPJS, sebelum antri lama di meja pendaftaran. Mungkin kita bisa tanya secara baik-baik ke si penjaga, apakah jenis penyakit yang kita alami ini, bisa di-cover oleh BPJS, jadi kita bisa menentukan tindakan selanjutnya secara cepat dan tepat, whether kita akan terus menggunakan BPJS, mau pakai asuransi lain, atau memilih pengobatan herbal?




Mata Ikan & Me vs The World: The Beginning

Hi, long time no seee...

Gimana nih kabar seorang Viera???

Alhamdulillah baik.

Tapi, eh tapiiiiii....

Saya baru aja kena musibah.

Saya baru aja....

Kena....

Fish eye.

Fish eye?

Jenis lensa yang suka dipake di kamera HP?

Nope.

Saya kena fish eye. Fish artinya ikan, eye adalah mata. Jadi, saya kena mata ikan.

Fufufufufufufu!

Abisan saya nggak tau bahasa Inggris nya mata ikan itu apa. Kalau bahasa medisnya sih 'Clavus'.

Saya udah kena mata ikan sekitar 2-3 minggu yang lalu.

Semuanya berawal dari....

Kapalan.

Letak si fish eye ini ada di telapak kaki berdekatan dengan ibu jari dan jari tengah kaki kiri saya.

Awalnya saya kira cuma kapalan biasa. Kapalan ini pun sudah ada di kaki saya bertahun-tahun, lebih dari lima tahun kayanya dan nggak pernah ada masalah berarti, selain ngilu sedikit kalau abis jalan lama, dan bisa langsung sembuh kalau disitirahatkan semalam suntuk sambil tidur atau direndam di air hangat yang dikasih garam.

Semua itu berubah sampai negara api datang menyerang...Aduh jadi kangen film Aang si Pengendali Udara.

Jadi, semua itu berubah sampai tiga minggu-an yang lalu. Tiba-tiba aja kapalan itu jadi sakit luar biasa. Tiba-tiba kapalan itu robek dan saya pikir ada duri masuk atau lecet kena sepatu biasa. Namun keesokan harinya, tiba-tiba kapalan itu semakin tebal dan kalau telapak kaki saya dipijakan, mulut saya akan otomatis membentuk huruf O, sambil bilang, "Ouch! Ouch! Ouch!"

Dan dua hari berikutnya muncul lah jendolan kecil di letak kapalan tersebut dan kaki kiri saya kelar perkaranya. Nggak bisa dipake jalan dengan sempurna.

Maka lagu almarhum Pak Meggy Z yang bilang sakit hati itu lebih sakit dari sakit gigi, salah banget saudara-saudara!

Sakit gigi emang bikin kesel, sakit hati apalagi, tapi sakit mata ikan di telapak kaki????

Wassalam guys~

Sebenernya mata ikannya sih biasa ya, tapi lokasinya yang tepat di telapak kaki tempat tumpuan berjalan itu yang bikin saya susah payah untuk berjalan normal.

Awalnya saya disarankan pakai callusol, obat legend para penyandang mata ikan. Yang konon dapat menyembuhkan mata ikan, dengan cara dioles dan kemudian mata ikan yang berlapis kulit tebal kita itu akan copot dengan sendirinya.






Dan itu memang benar adanya, kulit tebal kapalan saya mulai mengelupas dengan sendirinya, namun mata ikan saya tak kunjung hilang.

Ada yang bilang, mata ikan itu bisa dicabut sendiri pakai gunting kuku atau jarum yang dipanaskan, tapi akan banyak darah yang keluar. Uuurgh, sebagai member PUBG alias Paguyuban Ukhti Banyak Gaya, tentu saja hal ini saya hindari. Ya Allah, liat darah ngeclak (aduh what is 'ngeclak' in english yah???) saja, aku puyeng~

Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengoperasi-nya saja. Konon katanya kalau abis dioperasi, nanti si mata ikan ini akan tercabut sampai ke akar-akar terdalamnya dan voilaaaaa kamu nggak bakal kena mata ikan lagi!

Saya pun menjadwalkan hari Selasa untuk pergi ke Puskesmas untuk meminta rujukan agar bisa dioperasi, sampai-sampai saya meminta izin untuk tidak masuk dari aktivitas saya seperti biasa selama seharian itu, karena berpikir akan dioperasi. Yay! Mata ikan saya akan berubah jadi mata uang!

Tapi, ceritanya belum sampai selesai sampai di sini guys...

Kamis, 14 Maret 2019

5 Hal Yang Bisa Dilakukan ketika Sedang Bosen Dengerin Dosen Ngomong (Tapi Nggak Bisa Keluar Kelas)





1. Ngobrol sama teman sebangku 
Ini kalau teman sebangkunya seru. Terus kalau kamu ga punya temen sebangku gimana? Kamu bisa ngobrol sama diri sendiri. Semacam refleksi diri atau muhasabah. Mempertanyakan keberadan kamu di dunia ini. Kenapa bumi itu bulat? Kenapa saya ada di sini? Siapa saya? Saya di mana? Saya siapa?



2. Ngecek HP
Setiap orang punya waktu-waktu yang berbeda tentang seberapa lama ngecek HP. Ada yang 1 menit ada yang 1 jam, ada yang 1 hari. Satu hari??? Ya mungkin situ tukang benerin HP ya, nggak ada salahnya ngecek HP seharian penuh? Dapet duit lagi.



3. Tidur
Percayalah apa yang dikatakan oleh Rudi, selain power rangers, saya juga suka banget sama power napping. Tidur siang lima menit berkualitas itu sama kaya tidur lima jam di atas kasur bulu dada Bang Oma angsa.



4. Makan permen
Yups, daripada makan temen apalagi makan hati, meningan makan permen. Ya pengennya sih makan bakso semangkok pake sambel, tambah kikil, pake jeruk limau, plus minum es jeruk, hal ini boleh dilakukan kalau kamu mau men-challenge dosen kamu ya? Cuma kalau kata orang Sunda mah, "teu kunanaon sih, tapi nanaonan???"



5. Berdiri sejenak
Beridiri-nya sejenak saja ya, kalau kelamaan, takutnya kamu disangka lagi Upacara Bendera. Setelah berdiri kamu bisa sedikit menggerakan badan kamu, tarik nafas dalam-dalam, keluarkan secara perlahan.

Minggu, 18 Maret 2018

#coolturead: H +1

Mau sedikit cerita tentang proses menulis yang saya alami ketika menulis blog sampai terbentuknya commuteheart.

Jadi, saya sempat mikir kan ya…

Emang ada yang mau beli buku saya? (((SELAIN SAYA SENDIRI)))

Terus, rasa PD saya juga sempat tergerus sama keberadaan vlogger. Ya Allah, hari gini masih jadi blogger???

Ketika mendapatkan jumlah like itu lebih prestige daripada jumlah royalti.

Belum lagi keberadaan wattpad, saya sempet ngira wattpad ini aplikasi turunannya whatsapp.

Terus blog saya téh masih konsisten aja ngomongin daily routine. Ya nggak apa-apa sih kalau daily routine nya, sehari di London, besoknya di New York, dua hari kemudian di Amsterdam, tampak seru sekali daily routine-nya.

Meanwhile, daily routine saya??? Sehari di Stasiun Cilebut, besok di Stasiun Tebet, lusa di Stasiun Gondangdia. Ya seputaran itu aja. Daily routine saya pun sebenernya tampak seru ya? Tampak seru untuk dikata-katain, hiks hiks…

Temen-temen blogger saya udah bisa ngehasilin duit, they can live from blog! Kalau saya lebih kepada, kalau mau tau saya masih idup apa nggak, ya silahkan liat aja blog saya.

Hidup saya kaya jumlah penghasilan mamang gojek yang suka mangkal di depan rumah, kadang naik-kadang turun. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang-kadang ngambang nggak jelas kaya eek di Sungai Ciliwung…

Tapi, ternyata oh ternyata, saya baru sadar kalau saya memposisikan 'menulis' sebagai proses self healing. Saya nggak peduli berapa orang yang baca postingan saya, ngggg, peduli juga sih…Tapi, perasaan senang yang saya dapatkan itu bukan karena jumlah orang yang baca tulisan saya, tapi lebih kepada ketika tulisan saya di publish. Kayanya tuh lagi nahan buang hajat dua hari, terus keluar semuanyaaaa! BRAT BRET BROT!

I felt really awesome when I clicked 'publikasikan' button on my computer screen.