Rabu, 04 Januari 2012

Siomay eating's story

Di postingan kali ini saya mau ngebahas sedikit pekerjaan si Mamam yang berpenghasilan 200 milyar per bulan (kalau niat korupsi). Sayangnya, beliau suka lebih takut sama Tuhan, daripada takut anaknya besok nggak bisa beli tas hermes.

Ya gitu déh, si Mamam suka ngajarin saya, kalau gaji itu datangnya dari bos, sedangkan rezeki datangnya dari Tuhan. Gaji boleh 2 juta per bulan, tapi yang namanya rezeki bisa 2 milyar per hari. Makanya banyak manusia yang gajinya lebih kecil dari presiden Indonesia, tapi bahagianya ngelebihin presiden Mogadisu.

Ya begitulah kehidupan saya sama si Mamam, kadang suka kesel kalau beliau udah nyuruh kawin melulu, tapi teteup ngerasa seneng banget kalau dijajanin makan siang sepiring siomay yang sebenernya bisa saya beli pake uang sendiri.






Tapi, di balik sepiring siomay yang cuma tujuh ribu perak, si Mamam selalu punya tujuh juta cerita yang nyaingin komik detektif Conan yang cuma Tuhan yang tau kapan tamatnya T.T

Si Mamam kali ini cerita tentang pekerjaannya sebagai PNS yang harus menilai kebersihan salah satu kelurahan yang sedang ditinjaunya.

Sebut saja keluarahan Mawar (bukan kelurahan sebenarnya, red), terletak di pinggiran Bogor. Bisa dibilang, kelurahan ini terletak di kawasan Bogor coret tujuh belas kali. Jauh di pedalaman, namun kaya akan sumber daya alam.

Agar terjaga kejujuran daripada kebersihan dari kelurahan tersebut, si Mamam melakukan inspeksi ala KPK yang kawin silang sama jelangkung alias mendadak-datang-tak-diundang-pulang-tak-diantar.

Maklum, kata si Mamam kalau dikasih tau dari awal mau ada inspeksi kebersihan dari pemerintah pusat, tuh kelurahan suka udah siap-siap dari jauh hari gitu. Terus, tuh lingkungan kelurahan cuma bakal bersih pas ada tim pemerintah pusat datang menilai aja?

Untuk memperdalam laporan yang ada, si Mamam melakukan wawancara dengan seorang ibu yang tinggal di kelurahan Mawar (bukan kelurahan sebeneranya, red) yang tidak memiliki saluran pembuangan yang baik, sehingga di pojokan rumahnya selalu terlihat lalat berkerumun T.T

Si Mamam (E): "Jadi, kalau ada sampah ibu buang ke mana?"
Ibu kelurahan Mawar (I): "Ya ke belakang aja Bu…"
E: "Ke belakang? Ke mana Bu?"
I: "Ke kali atuh Bu, enak buang sampah ke kali mah, luas, lega, langsung we palid ka laut…"
E: "Setelah yang saya lihat, di rumah ini tidak ada kakus ya Bu?"
I: "Ada Bu…"
E: "Di mana?"
I: "Di belakang Bu…"
E: "Di belakang? Di kali?"
I: "Iya Bu. Enak kalau buang air besar di kali mah, mau bebersih juga, aernya banyak. Kotoran saya juga mereun langsung bisa dimakan sama lele…" (Pas diceritain bagian ini, yang mulia Teteh Piera langsung puasa makan lele dua minggu!)
E: "Kalau mau nyuci? Ibu ke kali juga?"
I: "Iyah atuh, nggak usah dibilas kuat-kuat, da aernya juga kenceng pisan…."
E: "Terimakasih atas partisipasinya Bu…."
I: "Ini atuh aer teh nya diminum dulu…"
E: "Ini ibu ambil aernya dari kali juga?"
I: "Sumuhun atuh, ti mana deui coba Bu?"

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOoooooouch gawd! Semoga bukan Sungai Bengawan Solo yang ada di belakang rumah si Ibu yang satu ini ya T.T







Temen-temen bisa bayangin nggak? Kalau kalian buang air besar, buang sampah, mandi, plus cuci baju dan piring di tempat yang sama????

Makanya saya mah no comment déh sama rencana DPR yang merelokasi budget sampai 2 milyar hanya untuk toiletnya saja. Tapi, kebayang ya, buat gedung DPR yang jumlah pengguna toilet di gedungnya saja mungkin hanya 500 (itu juga kalau semua anggota DPR masuk kerja) orang per hari, kita harus menyiapkan uang 2 milyar???

Apalagi buat penyediaan MCK yang baik buat kelurahan Mawar yang jumlah penduduknya ada 2000-an orang??? 4 milyar untuk WC??? Asalkan emang beneran buat WC, bukan buat resepsi nikahan istri ke tiga belas, yang mulia Teteh Piera ridha dah bayar pajak tinggi juga...


2 komentar:

  1. [add article]
    http://notesanom.wordpress.com/2011/04/18/lirik-mata-hati-ost-orang-pinggiran/

    visit my blog here

    BalasHapus