Minggu, 08 Desember 2013

Kok-muter Line: Go for it Tanjung Barat!

Jakarta dilanda cuaca tak menentu hari itu. Sudah 30 menit saya berdiri di dalam peron stasiun.

Sepasang anak muda menggunakan pakaian dengan warna yang sama terlihat bertengkar di hadapan saya. Tampak tangan si pemuda memegang erat tangan si wanita, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, dari gerak gerik tubuhnya, saya bisa memastikan bahwa si wanita ingin meninggalkan si pemuda sesegera mungkin.

Seorang kakek tua berpakaian lusuh terlihat sedang menyapu lantai stasiun yang tak kunjung bersih jua.  Tapi, beliau terlihat bahagia melakukan pekerjaan tersebut.

Tangan kanan saya memgang payung berwarna merah muda yang pernah saya beli di sebuah toko kelontong Cina di Italia dahulu.

Boleh dibiilang, payung tersebut adalah salah satu saksi bisu perjalanan saya menggapai 100 mimpi yang pernah saya tulis di sebuah kertas lusuh tiga belas tahun yang lalu.

Sesekali mata saya melirik ke arah jam tangan berwarna hitam, berdesain maskulin, yang sebenarnya diperuntukan untuk Ayah saya, namun beliau lebih memilih untuk menggunakan jam tangan lama buatan negri Paman Sam, yang telah dimilikinya semenjak saya masih duduk di sekolah dasar dahulu.

Kedua jarum jam tersebut berjalan sungguh pelan, sepelan kenyataan yang saya harus terima.


***



(Tiga jam sebelumnya)

Di tengah-tengah pekerjaan kami yang semakin menumpuk, akhirnya saya menyempatkan diri untuk berbicara empat mata dengannya.

"It's your dream." Katanya sambil menghela nafas.

Saya hanya menganggukan kepala perlahan.

"Go for it."

Mata saya terbelak. Rasa kaget menjalar ke tubuh ini. Go for it? Itu artinya, saya tidak dapat bertemu lagi dengannya, sang ego yang telah mengalahkan 100 mimpi saya, sang ego yang telah saya perjuangkan demi sebuah kemenangan hampa, sang ego yang membuat saya berpikir bahwa dirinyalah kumpulan 100 mimpi saya dalam satu tubuh, sang ego yang telah menambahkan 100 mimpi tambahan dari 100 mimpi yang pernah saya buat terlebih dahulu.

Tak adakah keinginannya untuk menghentikan langkah saya mengejar 100 mimpi itu dan lebih memilih dirinya?

"Well, I'm your right shoe…" Ucapnya sambil mengembalikan payung merah muda yang dia pinjam kemarin.

Ucapannya itu meninggalkan seribu tanda tanya di wajah saya. Seperti bisa membaca mimik muka, dia melanjutkan perkataannya sambil tersenyum, "and you're my left shoe…."

Kalimat yang tak saya pahami itu mengakhiri percakapan kami, sekaligus 100 mimpi tambahan saya.

Dan kini saya masih berdiri di atas peron, menunggu kedatangan commuter line yang konon katanya telat sedari sejam yang lalu.



***



Kedua jarum jam itu berjalan pelan, se pelan pemikiran saya tentang apa yang diucapkan dirinya tiga jam yang lalu. He's my left shoe? And I'm her right shoe?

Saya merasakan getaran dalam saku celana, sebuah file berisikan lagu, masuk ke dalam inbox telepon gengggam saya.

"I don't know, but this song is always be on my iTunes top list lately. Maybe it's a sign…Go for it :)" Tulisnya di bawah file terse but.

Cepat-cepat saya mengunduh file tersebut.







***



(Empat menit kemudian)

Saya pun tersenyum.

Yeah, go for it :)

Kereta yang telat itu datang juga di Stasiun Tanjung Barat, tempat ego saya kalah telak dari 100 mimpi saya. Tak terasa sudah hampir sepuluh kali saya putar file musik yang dia berikan tadi, terkadang mulut ini pun turut bernyanyi bersama beberapa liriknya.






"Kita adalah sepasang sepatu. Selalu bersama, tak bisa bersatu. Kita mati bagai tak berjiwa, bergerak karena kaki manusia. Aku sang sepatu kanan…Kamu sang sepatu kiri…."

2 komentar:

  1. mengharukan sekali ceritanya sampai ing menitikkan air mata

    BalasHapus