Sabtu, 16 Oktober 2010

Ria si Rajin is greeting you from Singapore!

Setelah Donskih si Penari Ular dari Mumbai, Jeung Wintjeh dari Oman, sekarang giliran Ria si Rajin dari Singapore yang Teteh Pierah ubek-ubek kegalauannya.





Singapoh! Saya lebih suka menyebutnya seperti itu. Menyebut seonggok (abis seuprit banget sih luasnya) negara yang punya hobby ngambilin pasir dari negara kita tercinta, Indonesia, they called it with Singapore. Kota sejuta pengharapan bagi kami para lulusan fakultas seni rupa dan desain. Saya pikir, dengan urban planing yang begitu ciamik, pemerintah Singapoh tidak bisa berbuat banyak tanpa dibantu para designer-designer mereka yang handal, salah satunya adalah sahabat karib saya, Ria si Rajin.





Kami lulus dari jurusan, angkatan dan universitas yang sama. Bedanya, Ria si Rajin lebih beruntung daripada Teteh Pierah si Imut Banget ini. Dia lebih dahulu menemukan bahwa jurusan yang dia ambil demi mendapatkan gelar bachelor-nya itu sudah sesuai dengan passion-nya. Sedangkan Teteh Piera yang Keren Abis, di umurnya yang sudah mencapai angka 22 tahun ini, masih meraba-rabapaha Christian Sugiono sekiranya apa ya pekerjaan yang cocok sesuai dengan passion Teteh Pierah. Sebenernya saya suka sih kerja di mana aja, selama nggak di aer, soalnya saya lahirnya Sabtu Pahing.

Ria si Rajin merupakan salah satu lulusan terbaik dari jurusan saya. Wah pokoknya tingkat kemalasan saya sama beliau itu bagaikan langit dan taik banget déh. Dari nama panggilannya saja, kalian sudah tau kan bagaiman sikap Ria si Rajin ini. Dia adalah temen se-kos-an saya selama di Bandung yang emang rajin banget! Banyak yang naksir! Pokoknya dia tipe digila-gila-i pria (Teteh Pierah juga sih tipe digila-gila-i pria, sering dikatain "Pea gila! Pea gila!" tepatnya, red) dan dijauhi wanita déh! Abis kalau deket-deket Ria si Rajin ini, Teteh Piera suka keliatan banget begonya. Dengan nilai IPK yang selalu hampir atau bahkan mengena angka 4.00, Ria si Rajin patut untuk dijauhi oleh tipe-tipe mahasiswi hobby makan kue pukis sambil nitip absen, seperti Teteh Pierah ini.

Di antara segala perbedaan yang ada, hanya satu yang menyatukan Teteh Pierah yang cantiknya nggak ketulungan ini dengan Ria si Rajin. Di saat deadline pengumpulan tugas akhir yang biasa kami sebut dengan portofolio di setiap akhir semester, tampak sepertinya kami selalu mengalami nasib yang sama. Diare! Yup! Itulah yang menyatukan kami berdua! Long live diare! Ibaratnya, kamu belum pantas disebut sebagai mahasiswa fakultas seni rupa dan desain, kalau kamu belum kena diare!

Ria si Rajin merupakan salah satu teman curhat (makan kue cuCUR di depan pitja HAT, red)-nya Teteh Pierah. Apalagi kalau sudah urusan lelaki, waaaaaaah, kita banget itu! Kumpulan wanita iri kalau ngeliat account facebook teman-teman lainnya yang sudah memajang foto-foto perkawinan. Bawaannya tuh pengen ngebakar gaun pernikahan mempelai wanita, ngempesein ban motor si penghulu, atau ngasih bubuk kalium sianida ke atas mangkok zupa-zupa soup yang akan dimakan oleh para tamunya.

Sekitar pukul 10 pagi waktu Singapoh kemarin, di dalam kamar di flat-nya, lewat teknologi yang bernama window messenger, Ria si Rajin mau membagi secuil pengalamannya selama mencari penghidupan di Singapoh. Sebuah negara maju dengan segala ke-'munduran'-nya.


Teteh Piera si Imut Banget (V): "Halloooo Ri, how are you?"
Ria si Rajin ( R ): "Baik Pe, alhamdulillah…"





V: "Langsung aja ya Ri ke pertanyaan pertama, kenapa milih Singapoh?"
R: "Karena di sini paling deket sama Indonesia, paling memungkinkan buat gue kerja. Alasan lainnya adalah, nggg…..Ada beberapa temen yang udah kerja di sini, jadi lebih gampang koneksinya kalau mau tau tentang hidup di sini. Kalau ada apa-apa juga ada yang bisa bantuin. Selain itu, negaranya udah terbilang maju, jadi dari segi penghasilannya insyaAllah di atas standard dan cukup untuk hidup di sini."





V: "Udah berapa lama gitu tinggal di Singapoh?"
R: "Gue di sini udah dari awal bulan Juli. Sebelum Juli sih tepatnya, sekitar tanggal 29 juni, terus tanggal 1 Juli-nya gue langsung masuk kerja, jadi udah hampir empat bulan ya? Baru sebentar banget kok..."





V: "Sekarang lu tinggal di mana?"
R: "Gue tinggal di daerah Mountbatten, sekitar 10 menit ke Merlion. Merlion tuh daerah wisata, icon-nya Singapore."











V: "Hoooo. Kalau misalnya gue sebut kata 'Singapoh', sebutkan tiga hal yang terlintas pertama kali di benak lu?"
R: "Cina, bersih, dan kota banget!"








V: "Gue ngerti 'cina' dan 'bersih', tapi apa yang lu maksud dengan 'kota banget'?"
R: "Iya, metropolis gitu maksudnya di mana kehidupannya sudah sangat maju."





V: "I see. Punya pengalaman yang paling tak terlupakan selama tinggal di Singapoh?"
R: "Ada beberapa. Satu-satu dulu kali ya?"
V: "Ok, I'm listening…"
R: "Meskipun gue di sini tinggal bareng beberapa temen dari Indonesia, cuma terkadang gue masih suka aja jalan-jalan sendiri, nggak selalu ada acara bareng-bareng. Jadi, pas gue lagi sendiri nih ya, gue suka melakukan hal-hal bodoh, hahahaha!"





V: "Hal bodoh kaya gimana Ri?"
R: "Hehehe! Jadi gue téh waktu itu lagi jalan-jalan ke toko buku di daerah Bras Basah. Terus pas mau balik, gue kan harus naik MRT, dan gue lupa jalannya. Padahal gue ke Bras Basah juga naik MRT. Cuma di sini, pasti ke mana-mana harus jalan kaki dan jalan kakiknya itu lumayan jauh. Kalau nggak biasa jalan, pasti ngeluh melulu."





V: "Hehehe, jalan kaki is my religon lah ya! Terus, gimana lagi nih kelanjutan ceritanya?"
R: "Karena lupa jalan balik ke MRT, akhirnya gue nanya salah seorang yang lagi diem di deket situ. Dia pake baju rapi, kaya baju kantoran gitu, padahal lagi weekend. Terus, gue tanya aja, 'kalau mau ke MRT Bras Basah lewat mana ya?' Terus dia bilang, 'Wooooh kalau ke sana lumayan jauh dari sini,' pake bahasa inggris. Terus dia nunjukin, kalau gue mesti jalan lurus dulu, belok, lurus, intinya lumayan jauh lah. Akhirnya gue bilang 'terimakasih'. Eh pas gue udah jalan, tiba-tiba dia manggil gue dan menawarkan diri untuk mengantarkan gue. Terus gue nanya lagi, 'naik apa?' dan dengan santainya dia menjawab, 'ini,' sambil nunjuk ke mobil di deketnya, merciiiiiiiiiiiiiiii boooooooooooooo!"
V: "Waaaah…..Tampaknya gue mencium sesuatu, hahahaha!"
R: "Gue pura-pura aja, 'aaaah, yang beneeeeer? Nggak apa-apa kok gue jalan kaki aja,' terus dia bilang nggak apa-apa. Ya udah déh gue naik ke mobilnya, soalnya gue liat juga dia lagi santai gitu, nggak ada kerjaan. Gue agak takut-takut gitu kan ya, takut dibawa lari! Namanya juga di negri orang…
"





V: "Gue sih nggak nolak dibawa lari pake merci, hahahaha!"
R: "Tapi gue tuh orangnya super duper penasaran dan suka petualangan, jadi gue pengen nyobain. Gila advneture banget déh gue!"
V: "Adventure pake merci mah beda kali ya? Hahahaha!"
R: "Naik lah gue ke merci itu, dengan bilang 'ooh, I'm affraid, hahaha!' Terus di mobil kita ngobrol-ngobrol. Dia nanya gue, 'emangnya mau ke mana sih?' Gue jawab, 'gue mau ke Chinatown, mau beli hadiah buat Oma gue.' Terus dia bilang, 'ya udah sekalian aja'. Di mobil juga, dia cerita, bahwa betapa beruntungnya gue bisa naik mobil ini, soalnya yang nyewa mobil ini cuma orang-orang kaya doang, hahahaha!"





V: "Waaaaaow!"
R: "Ternyata dia adalah supir limo, jadi kerjaannya ya bawa mobil-mobil keren gitu setiap hari, terus nyupirin orang-orang kaya atau turis-turis keliling Singapore. Nama dia Syahid dan ternyata dia muslim booooo! Hahahaha!"





V: "Langsung pacarin aja Ri! Lumayan nggak usah naik MRT lagi ke kantor, hahahaha!"
R: "Hihihihi. Terus dia curhat, kalau hidup di sini emang mahal banget! Sebuah kota dengan living cost yang tinggi, padahal dia itu singaporean, asli Singapore! Jadilah gue ngobrol-ngobrol sampai Chinatown, seru banget!"





V: "PDKT ya Ri? Hahahaha!"
R: "Hohohoho! Terus ya, ternyata di dalem merci itu ada adalt kecil, jadi kalau mobilnya udah deket banget sama mobil di depannya, dia bakalan bunyi, canggih! Syahid bilang, buat pasang alat itu, bisa sampai 300-500 dollar Singapore! Mahal! Gituuuu ceritanya….Itu cerita yang pertama!"





V: "Sekarang, yang kedua?"
R: "Iiiiiih, ini nih yang paling gue sebel banget dari orang Singapore! Gue punya pengalaman disuruh buka jilbab!"





V: "How come???"
R: "Jadi waktu itu ya, gue harus check up, buat medical notification gitu untuk dapetin ijin kerja. Gue direkomendasikan sama pihak kantor untuk dapet dari klinik lokal. Isinya orang lokal semua déh, kebanyakan chinese-nya! Terus, pas diperiksa, gue disuruh buka baju dan ganti sama baju klinik. Ya udah, kan gue ganti, tapi jilbab tetep gue pake dong. Terus pas mau di-rontgen paru-paru, tapi nggk ada tuh yang nyuruh buka jilbab. Orang yang mau diperiksa dada kok, malah kepala ikut-ikutan? Ya udah, gue ngotot, nggak mau! Terus si enci-enci nya bilang, 'ga bisa lah, harus buka, kalau nggak mau, bilang sama radiologist-nya'. Ya udah gue nyolot aja, 'lu kan mau meriksa paru-paru, ngapain lu mau liat kepala gue! Please respect what I believe!' Terus si radiologist ini langsung bilang, 'oke lah, oke laaah, tapi sini gue jepit dulu bagian jilbab yang ngalangin rontgen-nya!' Akhirnya dia bilang ke gue sambil bantuin jepit, 'seumur hidup gue ga pernuh nemuin hal kaya gini, banyak juga yang medical check up di sini pada pake jilbab, tapi pas periksa, pada mau dibuka.' Jadi téh, kalau menurut gue, mereka emang nggak ngerti tentang apa yang kita percaya. Jadi, kita harus tegas dan ngejelasin ke mereka tentang apa yang kita percaya, biar mereka ngerti!"





V: "Bener Ri! Ada cerita lain lagi tentang hal yang berhubungan dengan hormat-menghormati perbedaan keyakinan ini?"
R: "Ada. Di kantor gue juga gitu. Gue satu-satunya muslim. Jadi, sebelum gue masuk kantor ini, gue nanya dulu, 'gue boleh shalat ngga?' Akhirnya mereka ngijinin…..Tapi, dengan persyaratan, gue nggak boleh shalat pas ada tamu. Karena mereka nggak pengen dianggap aneh, soalnya gue shalatnya di pantry dan bisa keliatan dari ruang meeting dan tempat nerima tamu. Ya udah, buat gue sih nggak apa-apa, selama gue masih bisa shalat. Pada awalnya, mereka suka aneh ngeliat gue shalat, karena nggak ada tirai penutupnya, jadi mereka bisa liat gue pas shalat. Tapi, lama-lama terbiasa juga. Agak berat sih, karena nggak enak juga ya shalat terus diliatin dengan tatapan aneh, tapi ya kita harus bertahan, hehehe. Survival to the fittest."





V: "Jadi, dengan segudang cerita mengharu-biru lu di Singapoh itu, apa aja yang udah lu dapetin dari Singapoh?"
R: "Apa ya? Nggg…Duit! Hahahaha! Hmmmm, sama pengalaman hidup yang agak kejam! Di sini gue belajar politik kerja, gimana harus jadi orang yang agak kejam, survive dengan uang 4 dollar Singapore hanya untuk dua minggu! It was pretty tough!"





V: "Selama di Singapoh pernah ke mana aja Ri?"
R: "Ke IKEA yang pasti, it's my favorite place, hohohoho! Terus ke Merlion, Fullerton, Esplanade, Vivo City, Lucky Plaza, Orchard, beberapa masjid, botanical garden, baru sedikit kayanya, tapi lumayan lah…Sekarang sih lagi pengen main luge di Sentosa, hehehe."











V: "Di antara semua tempat yang pernah lu kunjungi itu, yang paling berkesan yan mana?"
R: "Ke ********* (demi menjaga ke-unyu-an yang bersangkutan, maka tempat yang disebutkan ini dengan sangat terpaksa tidak dapat diketahui oleh para teman-teman kelompok PENCAPIR (PENgamat CeritA-cerita PIeRa!) yang sudah barang tentu pasti penasaran banget, red). Officially, yang paling berkesan itu Esplanade!"








V: "Ada apa dengan Esplanade?"
R: "Gue suka banget tempat itu. Esplanade itu kaya gedung buat art performance, terus di sekitarnya ada kaya sungai besar gitu! Orang suka nongkrong duduk-duduk liat performance. Enak banget jalan-jalan di situ. Sekarang lagi ada light art festival, gue jadi tambah seneng diem di sana, bisa duduk-duduk, bengong dengertin musik, sambil liat lighting yang bagus banget…"








V: "Waaaaow! It seems really beautiful. However, lu kangen nggak sama Indonesia?"
R: "B A N G E D D D D D D D D!" (Cara penulisan kata 'banget' ini sesuai dengan apa yang Ria si rajin tulis, red)





V: "Wah kangen banget kayanya…."
R: "Kalau dibandingkan dengan nature di Indonesia, jauh abis, di sini nggak ada apa-apanya. Secara ya, gue suka banget backpacking, gue udah liat betapa nature kita tuh, uuuuuuuuuuh….Nggak ada tandingannya!"





V: "Yup! Bener banget!"
R: "Sama makanannya! Makanan di Indonesia itu luar biasa déh! Bisa murah, tapi enaknya naudzubillah!"





V: "Sebagai sesama perantau, Teteh Pierah sangat setujuh! Sedelapan! Sesembilan! Sesepuluh!"
R: "Hahahahaha!"





V: "Ada rencana untuk balik ke Indonesia?"
R: "Ada, of course. Gue malah berkeinginan, suatu hari, kalau bisa, gue pengen hidup sederhana aja. Nggak apa-apa lah di daerah, misalnya di Bandung atau Garut. Yang agak desa, rumah kecil, tapi nyaman dan bahagia, hehehe!"





V: "Kalau dalam waktu dekat ini mau balik ke Indonesia?"
R: "Iya, di sini bisa bolak-balik ke Indonesia karena deket, asal ada waktu. Pengennya sih November 2010, tapi liat dulu dapet cuti atau nggak, hehehe."





V: "Apakah lu akan balik lagi ke Singapoh?"
R: "Oh iya, tentu. Masih harus menunaikan tanggung jawab kerja aye di sini dan flat house gue masih ada kontrak sampai dua tahun, huhuhu!"





V: "However, lu punya kota-kota lain yang menjadi prioritas utama untuk didatangi ketika lu keluar dari Singapoh?"
R: "Ada. Gue pengen banget ke Tokyo atau kota-kota di Jepang. Soalnya di sana orangnya bisa bikin barang lucu-lucu. Gue suka ngeliat barang-barang lucu. Terus, Pasris, New York City, dan London. Banyak ya?"





V: "Tenaaaang, ucapan adalah doa Ri…By the way, selama lu tinggal di Singapoh, apakah lu punya lagu yang 'elu dan Singapoh' banget?"
R: "Yang sering gue denger akhir-akhir ini yaitu Lisa Ono sama Julian Duncan yang 'Bengawan Solo' dan 'Rasa Sayange'."
V: "Wah, kangen banget sama Indonesia nih kayanya…"
R: "Tentunya, hehehehe."





V: "Eh ada saran nggak buat temen-temen kelompok PENCAPIR (PENgamat CeritA-cerita PIeRa!) yang mau berplesiran ke Singapoh, semacam 'do & don't'-nya?"
R: "Don't-nya, kalau di sini, kita disarankan jangan lelet. Karena orang Singapore itu selalu in a rush, bisa dibentak sama penjual nasi, kalau kelamaan mikir mau makan apa, hahaha!"





V: "Hahahaha! Pengalaman pribadi ya?"
R: "Iya! Hahahaha! 'Do'-nya, lo mesti naik semua angkutan kota di sini kalau mau mengenal Singapore, dari bus, MRT, sampai taksi. Teruuuussss, lu mesti nyobain masakan India, hehehe!"








V: "Lho kok, masakan India? Kenapa nggak ke India langsung?"
R: "Iya, soalnya di sini banyaaaaak banget masakan India! Kalau mau bersyukur betapa masakan Indonesia itu enak banget, lu mesti nyobain masakan India!"
V: "Hahahahaha! Ngerti, ngerti, gue sering diperlihatkan secara langsung maupun tidak langsung oleh Donskih si Penari Ular dari Mumbai itu!"
R: "Hahahaha! Pasti nggak karuan!"





V: "Okay, last question nih Ri, apa rencana lu setaun ke depan?"
R: "Gue masih pengen ngejar passion gue di interior, gue masih mau nyari-nyari kerja di konsultan interior, kalau udah beres dengan segala rasa penasaran gue, gue mau S2, abis itu balik lagi ke Indonesia. Tapi, bisa dibolak-balik sih rencananya, bisa balik ke Indonesia dulu, nikah, baru S2. Hehehe!"
V: "Thank you for your time ya Ri! Semoga bisa S2, nikah, lalu punya rumah di Garut! Hehehehe!"


So, dari teman-teman kelompok PENCAPIR (PENgamat CeritA-cerita PIeRa!) ada yang berniat mempersunting high quality jomblo (sesuai dengan pesan sponsor nih. Sebagai imbalan wawancara gratisan, Teteh Piera harus promosiin beliau, red) ini lalu menemaninya jalan-jalan sore ke Esplanade?






Saya yakin banyak banget dari temen-temen kelompok PENCAPIR (PENgamat CeritA-cerita PIeRa!) yang beranggapan bahwa hidup di luar negri itu sungguh "wah!", "wow!", dan "uhuy!" banget. Padahal di balik itu semua, ada "hiks!", "cuh!" dan "pret!" juga. Udah banyak lah orang mengagumi raksasa google.inc dengan keuntungan bersihnya yang mencapai 230 triliun USD tahun kemarin, tapi kayanya orang-orang pada tutup mata akan keterpurukan google.inc yang mencapai 2 milyar USD sepuluh tahun silam.





Sumber foto.

5 komentar:

  1. Riaaaa.... kalo gwa ke spore, boleh numpang di flat lo ngak? *ngaktaumaludotcom* hahahaha..

    ah spore...
    gwa paling kagum dan kangen sama MRT-nya. Dulu gwa pernah nyasar ri, tapi untung jalur MRT gampang dingertiin.. jadi alhamdulillah gwa masih idup sampe skarang.. *apa seeeeh..*

    BalasHapus
  2. Bayaaaaaar! Kasian si Ria lu tumpangi! Mana makan lu kan banyak Mir (kaya gue!) ahahahaha!

    Wiiiiih, ke Singapore udah kaya ke Bogor ya skrg mah. Malahan lebih lama ke Bandung (2 jam, klo ga macet) daripada ke Singapore (1,5 jam, klo nggak delay)...

    BalasHapus
  3. huahh dasar dirimu vierra.. panjang banget ceritanya tentang kotah singapohnyaa.. hehe..
    btw saya sepertinya mengenal beberapa foto yang ada di blog anda.. kwkw..
    gapapa.. gantinya dengan mengantarkan saya jalan2 nanti yaahh... hohoh...:D:D ;p

    BalasHapus
  4. Ikut nimbrung aja buat Ria si Rajin : same thing happened to me sist ! Dulu juga waktu awal2 , bingung banget cara gunain MRT, mulai dari masukin recehnya kemana, trus nentuin rute-nya gimana, dan cara ngegunain kartunya supaya "gerbang"nya kebuka gimana .. Hehe .. "Malu bertanya, Sesat di Jalan" , bener-bener kupegang deh kata-kakta itu. Untung orang di Singapura yang kutemui ramah semua, mereka ngejelasin dan ngasih tau info yang bener-bener berguna selama traveling di Sin. Kadang peta yang lengkap itu gak cukup buat jadi pegangan . Harus disertai keberanian untuk bertanya . BTW, biar meminimalisir "NYASAR" , mendingan ngambil peta yang disediain gratis di bandara deh . Trust me, ngebantu banget ! :)

    BalasHapus
  5. Rasti: Iya nih, soalnya dapet cerita dari narasumbernya juga panjang :) Hehehehe, iinsyaAllah, makanya lu doain biar gue bisa lulus2 banyak mata kuliah, biar bisa jalan2 :)

    Vino: Makasiiiih banyak Vinoooo, ini jadi bahan pegangan saya juga kalau nanti diberikan kesempatan untuk ke Singapoh :)

    BalasHapus