Kamis, 23 Desember 2010

Vuisih Pierah

Eh, eh boooooooo Teteh Pierah lagi kesurupan roh Sapardi nih. Di malam yang sunyi sepi ku duduk sendiri ditemenin neng Kunti…AAAAAAAAAAARGH! Jam 11 malem di dalem kelas, cengo! Melongo! Kaya orang dongo!

Ketika mata terus membaca materi kuliah tapi otak dan hati udah mulai mikirin pengen punya pacar berambut pirang, bermata kecil, dan bisa salto, inilah saat yang paling tepat untuk menulis postingan di blog! Beneran ya, nulis di blog itu pelampiasan paling ampuh dari rasa jenuh yang sering saya rasakan ketika sampai neraka studi Italiaaaaaargh!

Kadang ya kalau lagi blog-walking, saya suka terdampar di blog-blog para khalayak yang puitis. Ketika rasa patah hati digambarkan dengan tautan kata "aku bahagia ketika kamu bersamanya…." Cih! Cih! Cih! Ngibul banget! Ini sih kebohongan publik namanya! Makan tuh B-A-H-A-G-I-A!!!! Meningan juga makan indomie rasa empal gentong pake saos dua belibis déh!

Coba nih, sekarang giliran Teteh Piera yang melukiskan sebuah kalimat untuk phrase 'patah hati', "aku bahagia ketika kamu menyesal sampe pengen narik bulu ketek Pangeran Charles pake tang karena telah bersamanya….." Tuuuuuuh, ini baru namanya sebuah kejujuran tak ternilai dan tak tertandingi, dari hateeeeeee bangeeeeet!

Ah tapi saya téh pengen juga gitu terkenal sebagai blogger serba bisa, mulai dari cebok sambil kayang sampe menulis untaian kata-kata penuh rasa sayang, saya jabanin semuanya! Okeh, okeh, so give me a start…

Ceritanya Teteh Piera mau buat puisi nih….

"Ehem, ehem…" Suara batuk Teteh Pierah yang nggak kalah renyah dari keripik singkong gope-an yang biasa dijual di warung-warung terdengar menggema di ruangan kelas yang cukup besar ini.

"Hoaaaaaaaaaaek! Cuh! Cuh! Cuh!" Buang dahak dulu ah bentar….Kan ceritanya mau bergaya, ketika seorang blogger yang demen boker ini akan mengasah kemampuannya untuk memebuat sebuah puisi, ihiiiiiy! Nggggg, kalimat pertamanya enaknya apa ya????


Wahai dirimu…
(Uhuyyyy, tampak terlihat mumpuni sekaleeee, kikikikiki.)

Ketika disadari bahwa kita terlalu berbeda
(Beda dunia, Teteh Pierah di dunia manusia, kamu di dunia siluman!)

Maka kutanamkan rasa percaya di dada
(Dada-nya Christian Sugionooooo dooong pastinya! Cewiwiiiiiiiit!)

Semenjak jutaan rasa itu tiada
(Jiyeeeeeeeeeh, gaya, gaya, gaya, Teteh Piera si pengarah gaya!)

Air mata ini tersembunyi dalam canda
(Teteh Piera sering banget mengeluarkan air mata ketika lagi nahan HA-PE a.k.a HAsrat Pengen Eek.)

Wahai dirimu…
(Pengulangan kalimat itu keliatan keren yak???)

Semoga kau tahu kita bahagia
(Inget ya, yang bahagia itu bukan situ doang!!! Tapi di sini juga bisa bahagia kok!)

Kau yakin akan keberadaan dia
(Apakah kau yakin akan keberadaan Titi Kamal, wahai Kang Christian Sugiono???)

Bertahun waktumu membuatku ceria
(Ceria??? Tentu saja! Sambil berharap kamu akan mencampakan seorang Titi Kamal di km 63 tol Cipularang!)

Namun satu detiknya memberimu dunia
(Emang apa sih yang bagus dari Titi Kamal??? Cantikan Teteh Piera kemana-mana!!! *Dibaca: Kecantikan Teteh Piera ke mana ya???)


Hmmmm, kalau ditulis secara proposionalnya sih jadi kaya gini…..


Wahai dirimu…

Ketika disadari bahwa kita terlalu berbeda
Maka kutanamkan rasa percaya di dada
Semenjak jutaan rasa itu tiada
Air mata ini tersembunyi dalam canda

Wahai dirimu…

Semoga kau tahu kita bahagia
Kau yakin akan keberadaan dia
Bertahun waktumu membuatku ceria
Namun satu detiknya memberimu dunia



Cem mana? Cem mana tuh puisi buatan Teteh Piera yang lagi nahan udara dinginnya Italia kala malam???

Eh, satpam yang biasa ngingetin saya buat matiin lampu dan ngunci pintu kelas (kasarnya, saya udah diusir dari kelas) dateng nih, Teteh Piera is sending out ya!






P.S: Wahai dirimu…Baik-baik ya di sana...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar