Rabu, 04 Mei 2016

Zdarsti from Ega in Bulgaria!

Meet Ega!






Well, nama panjangnya sih Endang Ghani Ashfiya, disingkat E.G.A.

Dipanggil Endang, katanya namanya kurang kekinian.

Disebut Ghani, nanti takut ketuker sama pemenang Asian Next Top Model Cycle 3 T^T

Kalau Ashfiya, kaya nama TK islam di sekitar kawasan ibu kota.

Jadi, mari kita panggil dia EGA.

Kenal sama seorang Ega, bener-bener such a blessed buat saya. Orangnya mah kecil kaya upil bison, tapi pengalaman hidupnya super duper guede banget. Terlalu banyak hal yang bisa saya pelajari dari pria kelahiran Singaparka ini. Wohoooo! Orang asik, pasti dari Tasik!

Emang sih setiap orang punya pengalaman hidup masing-masing, tapi Ega's one, saya bilang sangat menarik. Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari perjalanan Ega sampai berada di kawasan Eropa Timur saat ini.

Salah satu cerita yang paling bikin saya wanna slap my own face adalah sebuah kenyataan kalau keinginan Ega  untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat universitas sempat terjanggal cukup lama, dikarenakan ia lebih memilih uang yang dikumpulkan sebelumnya dipergunakan untuk membiayai adiknya bersekolah.

Sebagai anak tunggal, yang menggangap semua anggota boyband Korea kelahiran tahun 90-an sebagai adik, cerita ini cukup menyentuk hati kalbu saya yang lembut bagaikan jajanan manisan kapas koala. Anak 90-an mah dijamin tau makanan yang satu ini yah??? Di SD saya dulu harganya 500 rupiah per bungkus, kesukaan saya yang pink, yang rasa strawberry.

Alih-alih dihujani rasa iba, si Ega malah berjuang dan berhasil mendapatkan beasiswa pada program undergraduate di salah satu universitas di Jakarta. Satu hal yang saya sangat hormati dari si Ega ini adalah dia nggak sungkan cerita tentang masa lalu nya and how he has to survive until now dengan rasa penuh bangga.

Kadang nih ya, kalau saya lagi mewek kembang tengah malam gara-gara ditinggal kecengan, saya suka berkali-kali ngomong sama diri sendiri, "malu ateuuuuh sama si Ega…" tapi yang ada saya malah makin nangis gara-gara nggak kuat liat cahaya kekerenan di balik kepala si Ega.

Saya ini orang yang gampang banget iri hati ya, jadi kalau misalnya ada orang yang sukses, saya suka ngedumel sendiri, "kok bisa sih dia kaya gitu????"

Tapi, dengan segala yang didapatkan oleh si Ega ini sekarang, saya bener-bener nggak berani iri sama cowok yang satu ini. Perjuangan hidupnya terlalu sulit dilalui sama saya. Mulai dari kehilangan sosok ayah di usia yang masih muda sampai menjadi buruh kasar di pabrikan pinggiran ibu kota, wohooooo, he deserves what he has right now!

Asal tau aja, dengan pengalaman bahasa Inggris yang ketika itu sangat minim, si Ega udah bisa plesiran ke beberapa negara tanpa menggunakan biaya. Uh ooooh! Sebagai warga jalan Mitrabatik di Tasik, sangat bangga lah saya sama pria satu ini.

Di postingan ini, saya mau sedikit membagi semangat seorang Ega ke teman-teman PENgamat CeritA-cerita VIERa semuanya. Yuk kita simak what has he been up to?

Ketika banyak teman saya memilih kawasan Eropa Barat sebagai tujuan utama untuk menimba ilmu, sebagai salah satu penerima beasiswa Erasmus, si Ega malah nyasar di Bulgaria. He euh! Bulgaria, bukan Belgia~






Viera si wanita imut dari Cilebut (V): "Egaaaaaaaaa! Kumaha damang?????"
Ega si pria kece dari Singaparna (E): "Ya Allah, pertanyaan pertamanya basa basi bangeeet…Alhamdulillah, sehat, pangestu. Neng Viera, damang?"

V: "Uh oh, aku mah damang selalu….Langsung nih ya Ga, kenapa milih Bulgaria?"
E: "Oh, jadi gini….Kan beasiswa Erasmus itu terdiri dari beberapa project ya. Gue kan Erasmus+ Action 2 dari SmartLink Project. Kebetulan di project itu, hanya Burgas Free University yang menawarkan jurusan yang sesuai dengan jurusan kuliah gue di Jakarta, yaitu komunikasi. Jadinya, gua ke Bulgaria. Tapi, waktu itu juga mikirnya pengen nyobain aja hidup di negara yang orang-orang di Indonesia umumnya nggak pernah ke sana. Erasmus itu enaknya, kita nggak cuma belajar di kampus, tapi punya cukup waktu buat berinteraksi dengan masyarakat lokal."






V: "Sekarang tinggal di mana Ga?"
E: "Sekarang gue tinggal di Burgas. Sebuah kota di bagian timur Bulgaria, Black Sea Coast. Kota kecil dengan penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Burgas ini kota terbesar ke empat di Bulgaria, setelah Sofia, Plovdiv, dan Varna."






V: "Hoooo, tampak seruuu kotanya…"
E: "Burgas ini kota summer, karena punya pantai, jadi cuma rame pas summer. Gua dateng ke sini pas Autumn dan itu kaya nggak ada orang. Jam 6 sore udah sepi. Nggak ada tukang nasi goreng apalagi tukang siomay lewat. Tapi, nanti pas summer katanya jalanan di mana-mana penuh, susah gerak, saking banyaknya turis. Di Burgas ini ada pantai Sunny Beach, yang jadi destinasi orang-orang Eropa dan Amerika buat liburan pas summer. Karena di sini murah sekali biaya hidupnya, dibandingkan dengan negara Eropa lainnya."




V: "Kang Ega udah berapa lama di Burgas?"
E: "Udah hampir enam bulan. Sampai di Burgas itu 2 Oktober 2015."






V: "Cieeee, happy half anniversary-an yaaaah…..sama dedaunan T^T"
E: "He euh sama dedaunan…Dedaunan yang belum juga tumbuh padahal ceunah udah spring?!"







V: "Eh Ga, kalau misalnya lo denger kata 'Bulgaria', tiga hal pertama yang muncul di otak lu apa?"
E: "Sebelum ke sini, gua pikir Bulgaria itu identik sama komunis, yoghurt, dan mirip-mirip Russia. Setelah tinggal di sini, tiga hal pertama yang pertama kali muncul adalah; kalau 'yes' geleng-geleng, kalau 'no' ngangguk-ngangguk, sama kenyataan kalau orang-orang Bulgaria itu baiiiiiiik sekali. Bulgaria nggak sekomunis dan tidak seburuk yang Anda pikirkan sodara-sodara."






V: "Hmmm, tunggu-tunggu, kenapa yoghurt? Di sana Cimory buka pabrik?"
E: "Karena eh karena…lo tau nama bakteri untuk yoghurt? Lactobacillius Bulgariacus…Hanya ditemukan di Bulgaria."






V: "Aaaaah, yang suka disebut-sebut di iklan Yakult????"
E: "Jadi, yoghurt yang original itu cuma dari Bulgaria. Makanya di Jepang, mereka import bakteri dari Bulgaria aja. Kata ilmuwannya sih gitu…."






V: "Berarti yoghurt di luar Bulgaria, bohong dong? Uuuurgh, aku kira hanya lelaki saja yang bisa membohongiku, ternyata perusahaan yoghurt juga bisa…."
E: "Bukan bohong sih, cuma tidak otentik aja bakterinya…"







V: "Okay, kata lu, orang Bulgaria itu baik banget, itu maksudnya apa ya? Lu pernah dikasih uang PP Burgas - Singaparna - Burgas sama orang Bulgaria?"
E: "Bukan, kalau ada yang kasih tiket Burgas- Singaparna- Burgas mah bukan baik lagi, langsung diangkat sodara. Mereka itu helpful. Gua sebagai orang asing di sini, nggak pernah ngerasa ketakutan. Pemilik apartment di sini rata-rata baik sekali. Mau nolong kalau kita ada masalah. Mau minta tambahan fasilitas, mereka kasih. Bukan pengalaman gua aja, tapi teman-teman internasional yang di sini juga ngalamin. Terus ya, mereka itu, meskipun yang nggak bisa bahasa inggris, kalau kita nanya, mau niat bantuin banget dengan kosa kata yang terbatas. Terus, kalau di restoran, waitress itu nggak ngarepin tips, bahkan pernah waktu itu lagi ada instalasi internet di apartment, biasanya kan kita kasih uang tips gitu ya, eh dia malah nolak. Apalagi di Burgas, angka kriminalitasnya sangat-sangat rendah…."







V: "Nggak ada acara 86 gitu atuh Ga?"
E: "Nggak ada…Euweuh kasusna."






V: "By the way Ga, ada pengalama tai terlupakan selama tinggal di Bulgaria?"
E: "Waaaah, banyak sih! Tapi yang paling seru, mungkin pas mengunjungi Shipka National Monument di pegunungan daerah Gabrovo. Itu tempatnya kereeeeeeen banget, meskipun naik gunungnya (walaupun pake tangga) capek sekali, tapi pas udah di atas itu kereeeeeeen. Ituuuu seruuuuuuu! Terus, setiap ikut festival hari-hari besar di sini seru juga, salah satunya Student's day. Di Indonesia nggak ada ya, di sini diperingati setiap tanggal 8 Desember. Acaranya sih biasa, makan-makan, party-party, ngumpul sampe pagi, tersu excursion ke tempat seru di sekitar Burgas. Tapi, ya seru aja, di sini student punya hari spesial."







V: "Wooot Ega partyyyy di sana???? While gua lagi berusaha meng-khatamkan quran di sini????"
E: "Party di sini itu artinya ngumpul-ngumpul aja di apartment siapa gitu, bukan ke club…."







V: "Iiih dikira ke club…."
E: "Club Tai Chi!"







V: "Tah eta! Eh Ga, apa aja yang udah lu dapetin dari Bulgaria selama ini?"
E: "Dapet ilmu baru karena di kampus ini gue sengaja ambil mata kuliah yang nggak diajarkan di jurusan komunikasi pada umumnya di Indonesia. Dapet, sahabat-sahabat bari, dengan beragam background, yang kadang bikin seru, bikin kesel, bikin males, tapi ujung-ujungnya ya mereka orang-orang terdekat selama ini. Dapet kesempatan untuk jadi orang lokal, itu seru sih! Kalau kita tinggal di paris atau Amsterdam gitu ya, dijamin deh nggak bakal berinteraksi sama penduduk lokal."







V: "Hooooo…"
E: "Tentang mata kuliah yang gua ambil, ada namanya democracy and human rights semester lalu. Si professor ini senior sekali. Keselnya, dis mengerti banger sama sejarah Indonesia dan tau UU di Indonesia yang bahkan gua aja nggak tau. Jadi, selama mata kuliah itu, gua baca lagi UUD 1945 secara detail dan baca sejarah Indonesia lagi. Karena gua bikin perbandingan mengenai pers dan demokrasi di Indonesia dan Bulgaria. Ada juga cerita tentang teman-teman internasional, yang serunya karena beragam budaya lah ya, kita kalau makan di luar suka agak ribet karena gua dan temen dari Maldives ini nggak makan babi, jadi harus milih-milih restoran. Terus kalau janjian, temen-temen dari beberapa negara ternyata tukang ngaret, apalagi yang dari Spanyol, mereka lebih ngaret dari orang Indonesia!"






V: "Ga, kangen nggak sama Indonesia?"
E: "Kangen bangeeeeetttt! Kalau nggak ada bumbu-bumbu instant makanan tradisional Indonesia, nggak tau deh bertahan hidup di sini gimana. Jujur, gua kangen banget sama makanannya, terutama pecel ayam, bubur ayam, sama martabak, karena kalau kangen sama orang-orang, misalnya keluarga, masih bisa video call kan? Coba, kalau makanan??? Nggak bisa video call untuk nyicipin rasanya."






V: "Di Bulgaria nggak ada restoran yang jualan makanan Indonesia Ga?"
E: "Nggak ada, bahkan di Sofia (ibu kota), nggak nemu. Tapi masih untung, ada supermarket Jerman yang jual beragam Thai sauce dan beberapa mirip lah sama sambal di Indonesia. Gua bawa sambel belibis tiga botol, abis dalam tiga bulan."







V: "Ega, kapan balik ke Indonesia?"
E: "InshAllah Agustus."







V: "Ada kota-kota yang masih pengen lu kunjungi Ga di dunia ini?"
E: "Kalau di Bulgaria, pengen ke Plovdiv. Plovdiv itu ditetapkan oleh UNESCO sebagai kota budaya, terus katanya 2017 apa 2016 gitu ya bakal jadi ibu kota budaya nya Uni Eropa. Di Plovdiv, mereka punya sisa peninggalan Thracian, udah gitu sisa-sisa Ottoman Empire juga masih ada, ada masjid yang berfungsi di sana. FYI nih, Bulgaria itu salah satu negara tertua di dunia, hampir barengan punya sejarah kaya Yunani gitu, meskipun detailnya gue nggak hafal sih, tapi pas waktu kunjungan ke museum, si guide cerita kaya gitu."







V: "Wiiih, peradaban kuno gitu ya…"
E: "Kalau di luar Bulgaria, pengen ke negara-negara Eropa Tengah. Standar aja sih, ke kota-kota tujuan turis, kaya Budapest, Vienna, Prague. Alasannya biar melengkapi aja perjalanan di Eropa, hehehehe….Kalau ada waktu dan budget lebih, pengen ke kota-kota kecilnya juga, tapi belum menentukan mau ke mana. Mudah-mudahan semuanya bisa dikunjungi pas summer holiday, sebelum pulang nanti."







V: "Hoooo…"
E: "Kalau di Indonesia, pengen ke Belitong sama Aceh. Aceh itu provinsi paling unik se Indonesia dengan keislamannya. Terus liat foto-foto temen yang orang Aceh, banyak banget tempat-tempat bagus buat dikunjungi. Kalau Belitong, karena pantainya. Well, gue sampai saat ini belum terlalu punya keinginan untuk ke Amerika, takut ditembak….Soalnya belum siap pacaran lagi, eh ini apa ya?"






V: "Huwooooh itu kalimat terakhir, kudu di highlight…….di forum yang berbeda! Eh Ga, lu punya lagu yang biasa lu denger selama di Bulgaria?"
E: "Gua nggak tau lagu-lagu Bulgaria, I mean, hafal liriknya atau penyanyinya. Tapi, musik yang bakalan mengingatkan gua akan Bulgaria, pasti musik 'Chalga'. Jenis musiknya kalalu di denger-denger itu agak campuran, Arabic sama India, jadi kalau denger-denger jenis musik kaya gitu pasti inget Bulgaria."







V: "Chalga itu nama penyanyi?"
E: "Chalga nama aliran musik. Orang-orang sini banyak yang benci, kaya dangdut di Indonesia gitu, ada fans garis keras, ada juga yang nggak suka banget kan? Terus, video klipnya biasnaya seksi-seksi kaya dangdut gitu. Ooooh, gue juga suka banget lagu I'm Yours-nya Jason Mraz…."







V: "Kenapa?"
E: "Karena suatu waktu, lagi di dalam mobil temen, diputarlah lagu I'm Yours lalu gue nyanyi. Terus pas kita ke karoke dalam rangka perpisahan sama beberapa temen di sini, gue diminta nyanyi lagu itu. Jadi, temen-temen di sini selalu mengingat gue dengan lagu I'm Yours."







V: "Okeh, pas lu balik ke Indonesia, gue tentant lu nyanyi I'm Yours…..versi chalga! Terus nih Ga, ada do & dont's buat orang-orang yang pengen ke Bulgaria?"
E: "Harus selalu diingat, kalau geleng-geleng di sini tandanya iya, sedangkan ngangguk-ngangguk itu artinya tidak. Terus, minumlah yoghurt asli sini, plus mungkin dengan mulai tau huruf-huruf cyrillique, kaya huruf-huruf Russia gitu,  akan cukup membantu."








V: "Ga, rencana setahun ke depan apa?"
E: "Pengen segera lulus kuliah."







V: "AMIIIIIN YA RAB! Eh Ga, dari segala hal yang pernah lu lalui, hal apa yang paling lu syukuri?"
E: "Hmmm, sesimple gua mensyukuri kalau bisa masak telor sebanyak apapun gua mau. Dulu jaman SMA, tinggal nebeng sama Bibi, kalau sarapan makan telor satu, harus dibagi dua sama sepupu, sekarang bisa makan telor tiga biji sekaligus, alhamdulillah banget, uang beasiswa sangat cukup buat beli telor di sini….."







V: "Howalah…."
E: "Sebelumnya, gua doa sama Allah itu cuma pengen kuliah, setelah lima tahun baru dikabul, eh ternyata dikasih bonus kuliah di luar negri, jadi itu yang paling disyukuri."
V: "Kyaaaaa, Egaaaaa nuhuuuun atas waktunyaaaa…."




Yuhuuuu, semoga ceritanya Ega ini bisa memberikan sedikit-banyak insight untuk teman-teman kelompok PENgamat CeritA-cerita VIERa semuanya!


Sumber foto: dokumen pribadi Ega.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar